GET PLANET — TPA Kebon Kongok bukan sekadar tempat pembuangan; ia adalah indikator paling jujur dari metabolisme ekonomi Pulau Lombok. Namun, memasuki Januari 2026, indikator tersebut menunjukkan sinyal merah. Lonjakan ritase truk sampah dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat telah membawa fasilitas ini ke ambang batas teknisnya.
Audit lapangan GET PLANET menemukan bahwa frekuensi ritase harian kini telah melampaui rata-rata historis, menciptakan tumpukan yang semakin mendekati pemukiman warga. Dampaknya tidak lagi sekadar bau tak sedap, melainkan potensi kontaminasi air tanah (leachate) yang mengancam ketahanan kesehatan warga di lingkar TPA.
”Kita sedang membebani Pulau Lombok di luar kapasitas alaminya. Kebon Kongok adalah pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa tata kelola limbah yang sirkular hanyalah bom waktu ekologis,” ungkap tim analis GET PLANET. saat meninjau lokasi.
Getnews+ Signature Data: Audit Operasional TPA Kebon Kongok
Solusi Strategis: Melampaui Pembuangan Konvensional
Pemerintah Provinsi NTB kini didesak untuk mengakselerasi pemanfaatan teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) secara masif. Tim GET PLANET menegaskan bahwa Kebon Kongok tidak bisa lagi hanya dikelola sebagai lubang pembuangan (landfill), melainkan harus bertransformasi menjadi pusat pengolahan energi. Di tahun 2026 ini, setiap ritase yang masuk harus diaudit nilai kalorinya untuk mendukung kemandirian energi lokal, sekaligus menyelamatkan Pulau Lombok dari jeratan krisis sampah permanen.




