“Hukum Internasional itu ibarat antrean Bansos: rapi kalau dipantau, tapi berantakan kalau yang punya hajat (Amerika) sudah mulai pilih-pilih siapa yang boleh makan. Penangkapan Maduro bukan sekadar urusan hukum, tapi pesan bahwa ‘Sheriff Dunia’ sudah kembali dengan borgol di satu tangan dan botol air mineral di tangan lainnya.”
AMBARA — Dunia gempar. Donald Trump baru saja mengunggah foto Nicolas Maduro yang tampak “mengenaskan” di akun Truth Social miliknya. Mengenakan celana training abu-abu, mata tertutup, dan memegang botol air mineral di atas kapal perang USS Iwo Jima, Maduro terlihat seperti tahanan kelas teri ketimbang seorang Presiden negara pemilik cadangan minyak terbesar dunia.
Apa Hak Amerika Menangkap Presiden Negara Lain?
Bagi AMBARA, jawabannya sederhana: Amerika tidak butuh izin hukum internasional jika mereka merasa punya “kunci serep” untuk semua pintu kedaulatan negara lain. Dengan label Narkoterorisme dari DEA, Amerika merasa punya hak prerogatif untuk menarik siapa pun dari singgasana mereka, bahkan jika itu harus dilakukan di Laut Karibia saat libur Natal.
Diplomasi “Subscription Service”
Dalam dunia yang mengklaim kedaulatan itu “suci,” Amerika baru saja membuktikan bahwa kedaulatan hanyalah paket layanan berlangganan. Jika Anda berhenti membayar “harga” kepentingan Amerika, DEA akan memutus langganan Anda—lengkap dengan borgol dan penutup mata. Foto Maduro yang memegang botol air mineral di atas kapal perang senilai miliaran dolar bukan sekadar berita; itu adalah review jujur bagaimana Sheriff Dunia menjalankan bisnisnya. 5 bintang untuk dramanya, 0 bintang untuk diplomasinya.
”Dalam dunia yang katanya menjunjung tinggi kedaulatan sebagai sesuatu yang ‘suci’, Amerika Serikat baru saja membuktikan bahwa kedaulatan itu sebenarnya lebih mirip layanan Netflix. Begitu Anda berhenti membayar ‘biaya langganan’ berupa kepatuhan terhadap kepentingan Paman Sam, DEA tidak segan-segan memutus koneksi Anda—bonus borgol dan penutup mata. Foto Maduro yang memegang botol air mineral dengan pasrah di atas kapal perang seharga miliaran dolar itu bukan sekadar berita; itu adalah Rating Bintang Satu untuk hukum internasional. 5 bintang buat dramanya, 0 bintang buat diplomasinya. Sheriff dunia memang tidak pernah libur, bahkan saat Natal pun mereka masih sempat ‘bungkus’ Presiden orang.”




