JAKARTA, getnews.co.id — Akademisi sekaligus tokoh nasional Anies Baswedan angkat bicara mengenai eskalasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada klaim penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Anies menyayangkan tindakan unilateral Washington yang dinilai bertentangan dengan prinsip kedaulatan dan multilateralisme global.
Melalui tulisan strategis yang diunggah pada Minggu (4/1/2026), mantan Capres nomor urut 1 ini menyoroti bahwa tindakan AS menciptakan preseden berbahaya bagi negara-negara berkembang (Global South) dalam mengelola kedaulatan sumber daya mereka.
”Sudah saatnya kita mengembangkan diplomasi yang lebih proaktif, daripada netralitas pasif yang membuat kita rentan sebagai korban,” tegas Anies, menekankan perlunya navigasi kepentingan nasional yang lebih strategis bagi Indonesia.
Analisis Geopolitik: Dampak Intervensi AS terhadap Global South
Anies melihat krisis Venezuela sebagai katalisator bagi Indonesia untuk memimpin reformasi tata kelola global di PBB.
| Dimensi Isu | Perspektif Anies Baswedan |
|---|---|
| Tindakan Unilateral AS | Kontradiksi prinsip kedaulatan & multilateralisme Washington. |
| Dinamika Multipolar | Persaingan pengaruh AS vs Rusia & Tiongkok di Amerika Latin. |
| Rekomendasi Diplomasi | Transisi dari Netralitas Pasif ke Diplomasi Proaktif. |
| Peran Strategis RI | Memimpin inisiatif Global South di PBB. |
Krisis Multilateralisme dan Peran Non-Negara
Anies menyoroti kelemahan lembaga internasional seperti PBB dan OAS yang tampak tak berdaya menghadapi konfrontasi langsung antar-kekuatan besar. Ia menyarankan agar Indonesia mulai menjalin jaringan dengan aktor non-negara untuk mediasi yang lebih efektif. Hal ini dianggap sebagai strategi bertahan hidup (survival strategy) di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.
Kepemimpinan yang Membangun Jembatan
Menutup pernyataannya, mantan Menteri Pendidikan ini menegaskan bahwa respons Indonesia terhadap krisis di Venezuela bukan sekadar soal moralitas internasional, melainkan kepentingan strategis untuk menjaga kebebasan dalam mengelola sumber daya nasional. Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun jembatan diplomatik dan memperkuat suara negara-negara berkembang guna mengimbangi kekuatan destruktif global.




