“Mutasi besar-besaran di tubuh Pemprov NTB pada awal 2026 menjadi sinyal dimulainya pembersihan hambatan birokrasi. Dengan menempatkan orang-orang kepercayaan di pos strategis, Lalu Muhamad Iqbal sedang memastikan ‘Triple Agenda’ tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi berlari di lapangan.”
GET INSIGHT – Gerbong mutasi di Pendopo Gubernur, Jumat (9/1/2026), menjadi babak baru dalam tata kelola pemerintahan Lalu Muhamad Iqbal dan Dinda Dhamayanti Putri. Pelantikan ini dilakukan bukan tanpa alasan; perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kelola (SOTK) baru yang efektif sejak 2 Januari menjadi pintu masuk untuk melakukan penyegaran total.
Iqbal secara eksplisit menekankan bahwa mutasi ini adalah upaya agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bisa berjalan lebih cepat. Visi “NTB Makmur Mendunia” membutuhkan eksekutor yang tidak hanya loyal, tetapi juga memiliki ketangkasan dalam menerjemahkan agenda Ketahanan Pangan, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, dan Pariwisata.
Analisis Strategis: Menempatkan “Garda Depan”
Jika kita bedah, mutasi ini menunjukkan pola penempatan tokoh-tokoh senior di pos yang berurusan langsung dengan data dan efisiensi anggaran. Baiq Nelly Yuniarti di Bappeda dan Lalu Herman Mahaputra di Bapenda adalah indikasi bahwa Iqbal ingin kendali penuh atas perencanaan dan pendapatan daerah sejak awal tahun.
“Semua OPD harus berjalan lebih cepat. Triple Agenda—Pangan, Kemiskinan, dan Pariwisata—bukan pilihan, melainkan keharusan yang harus dirasakan masyarakat NTB hari ini juga.”
Audit Reposisi Jabatan: Struktur Baru SOTK 2026
Berikut adalah tabel audit reposisi jabatan kunci yang menjadi sorotan dalam mutasi kali ini juga jabatan teknis dan jabatan operasional:
*geser ke kiri
Menagih Hasil
Dengan tuntasnya pelantikan ini, alasan “penyesuaian struktur” tidak lagi berlaku di masa depan. Iqbal telah memberikan “kendaraan” baru bagi para bawahannya. Pertaruhannya kini tinggal satu: mampukah para wajah lama di kursi baru ini memberikan akselerasi yang diminta, ataukah mutasi ini hanya sekadar pergantian penumpang tanpa perubahan kecepatan?
Bagi masyarakat NTB, indikatornya sederhana: seberapa cepat kemiskinan turun dan seberapa stabil harga pangan di pasar. Sisanya, hanyalah urusan administratif di balik meja Pendopo.




