“Pernyataan Delcy Rodriguez di hadapan Akademi Militer Caracas bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan deklarasi perlawanan terhadap intervensi Amerika Serikat. Di tengah bayang-bayang invasi militer dan isu penculikan Nicolas Maduro, Venezuela memilih untuk tidak tunduk pada unilateralisme Washington.”
GET INSIGHT – Caracas sedang membara. Dalam suasana duka di Akademi Militer Garda Nasional, Kamis (8/1/2026), Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez memberikan pesan yang menggetarkan tatanan global. Rodriguez menegaskan bahwa rakyat Venezuela tidak pantas menerima “serangan keji” yang dilakukan oleh Amerika Serikat, termasuk operasi penculikan terhadap Presiden Nicolas Maduro.
Penghormatan kepada tentara dan warga sipil yang gugur dalam invasi 3 Januari lalu menjadi momentum bagi Venezuela untuk mempertegas posisi mereka. Di hadapan moncong senjata intervensi, Rodriguez menyatakan negaranya tetap otonom dan merdeka.
Analisis Geopolitik: Titik Nadir Diplomasi
Operasi militer AS di tanah Venezuela menandakan runtuhnya jalur diplomasi. Penggunaan istilah “penculikan” terhadap seorang kepala negara aktif menciptakan preseden berbahaya dalam hukum internasional. Bagi Washington, ini mungkin upaya “restorasi demokrasi”, namun bagi Caracas, ini adalah penjajahan gaya baru.
“Venezuela tidak akan pernah tunduk kepada Amerika Serikat. Kami tetap otonom dan merdeka meskipun ada operasi militer. Rakyat kami tidak pantas menerima serangan keji ini.”
Dampak Invasi 3 Januari
Tim analisis getnews+ membedah dimensi konflik ini melalui tabel komparasi berikut untuk melihat apa yang sebenarnya dipertaruhkan di Venezuela:
Kedaulatan di Ujung Bayonet
Peristiwa ini adalah peringatan bagi dunia bahwa hukum internasional sedang berada di titik nadir. Jika seorang Presiden bisa diculik melalui invasi militer sepihak, maka tidak ada negara yang benar-benar aman. Perlawanan Rodriguez adalah simbol bahwa kedaulatan tidak bisa dibeli dengan bantuan kemanusiaan ataupun ditekan dengan sanksi ekonomi.
Dunia kini menunggu: Apakah komunitas internasional akan tetap diam melihat “penculikan” ini, ataukah akan ada sanksi kolektif bagi sang agresor?




