[LOADING DATA ANALYSIS…]
“Mutasi NTB Januari 2026 bukan sekadar rotasi, melainkan restrukturisasi sistem. Dengan data penempatan pejabat yang berfokus pada pos strategis, kursi Sekda kini menjadi potongan terakhir dalam algoritma kemajuan daerah.”
GET DATA – Jika kita melihat mutasi pejabat Pemprov NTB pekan ini hanya sebagai bagi-bagi kursi, kita melewatkan gambaran besarnya. GET DATA mencoba membedah pergerakan ini menggunakan kacamata sosiologi data dan efisiensi birokrasi. Hasilnya? Iqbal sedang melakukan re-booting sistem.
Berdasarkan data 14 pejabat eselon II yang dilantik, terdapat tren menarik. Sebanyak 65% pejabat yang digeser menempati pos yang berkaitan langsung dengan Pendapatan (Bapenda), Perencanaan (Bappeda), dan Komunikasi (Diskominfotik). Ini adalah segitiga emas data: Input-Process-Output.
Analisis Data: Pola Mutasi Januari 2026
Iqbal sepertinya menggunakan algoritma “Right Man on the Right Desk” dengan parameter yang ketat. Penempatan dr. Jack (Lalu Herman Mahaputra) di Bapenda, misalnya, adalah data anomali yang cerdas. Secara statistik, ia sukses meningkatkan laba RSUD NTB secara eksponensial. Memindahkannya ke Bapenda adalah upaya sistem untuk menduplikasi keberhasilan pengelolaan aset menjadi optimalisasi pajak.
“Data mutasi kali ini menunjukkan indeks sinkronisasi pusat-daerah yang meningkat. Dengan 3 calon Sekda yang memiliki latar belakang auditor, jaringan pusat, dan penguasa medan, Pemprov NTB sedang mencari ‘Sistem Operasi’ (OS) yang paling stabil.”
Mencari “Prosesor” yang Tepat
Sekretaris Daerah (Sekda) adalah Central Processing Unit (CPU) dari seluruh ekosistem birokrasi. Berikut adalah simulasi data tiga calon Sekda berdasarkan variabel kebutuhan NTB saat ini:
Kesimpulan Data: Menunggu Eksekusi Terakhir
Secara data, mutasi pejabat eselon II sebelumnya adalah persiapan infrastruktur (hardware). Namun, tanpa Sekda yang mumpuni sebagai sistem operasi (software), mesin besar bernama NTB ini tidak akan bisa menjalankan aplikasi “Triple Agenda” (Pangan, Kemiskinan, Pariwisata) secara maksimal.
Lalu Muhamad Iqbal tidak hanya mencari seorang “bos” bagi para ASN, tapi ia sedang mencari pendamping yang data-nya “sinkron” dengan visi NTB Makmur Mendunia. Siapa pun yang terpilih, ia harus mampu menerjemahkan tumpukan data masalah menjadi algoritma solusi.




