Memaksakan diri masuk ke lingkaran DK PBB di tengah arogansi Washington adalah langkah yang tidak strategis secara intelijen ekonomi maupun politik (istimewa)

Diplomasi “cari muka” di panggung global sedang dimainkan Jakarta. Setelah sukses duduk di kursi Dewan HAM PBB, kini Indonesia memasang target menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, lagi. Tapi mari kita bicara jujur di meja redaksi: Untuk apa? Selama hak veto masih menjadi “mainan” eksklusif Amerika Serikat untuk mem-back up Israel, DK PBB tak lebih dari sekadar macan kertas yang ompong. Menjadi anggota DK PBB hanya akan membuat Indonesia terjebak dalam pusaran birokrasi elit yang hipokrit. Sudah saatnya kita menoleh ke blok yang lebih punya “nyali” dan menghargai kedaulatan ekonomi serta kemanusiaan yang nyata: BRICS.

Analisis GET INSIGHT: Mengapa PBB Adalah Investasi yang Rugi?

​Tim GET !NSIGHT membedah anomali diplomasi kita. Memaksakan diri masuk ke lingkaran DK PBB di tengah arogansi Washington adalah langkah yang tidak strategis secara intelijen ekonomi maupun politik.

  1. Dilema Hak Veto: Indonesia boleh saja bersuara lantang soal Palestina atau ketidakadilan global, namun di ujung hari, satu tarikan pena dari perwakilan Amerika akan membatalkan semuanya. DK PBB hanyalah panggung sandiwara di mana naskahnya sudah ditulis oleh pemegang veto.
  2. Efektivitas BRICS & OKI: Berbeda dengan PBB yang didominasi narasi Barat, BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) menawarkan sistem multipolar. Di sini, demokrasi ekonomi dihargai tanpa syarat “standar ganda” ala Amerika. Begitu juga OKI, yang jika dikelola secara agresif, memiliki kekuatan tawar lebih besar bagi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar.
  3. Realitas Geopolitik: Data intelijen menunjukkan pergeseran gravitasi ekonomi dunia ke arah Timur dan Selatan. Memuja PBB yang sudah usang adalah langkah mundur. Indonesia butuh aliansi yang “mau” menghargai kemanusiaan tanpa intervensi militer terselubung.

Resume Strategis: PBB vs Aliansi Alternatif

PlatformStatus & EfektivitasDominasi Politik
DK PBBMandul (Terkunci Hak Veto)Amerika Serikat & Sekutu
BRICS+Progresif (Ekonomi Multipolar)Kedaulatan Kolektif Selatan
OKIPotensial (Sentimen Kemanusiaan)Negara-negara Muslim
REKOMENDASI: Pivot ke BRICS untuk Kemandirian Ekonomi & Politik

Waktunya “Sat-Set” Keluar dari Zona Nyaman

​Jika Prabowo ingin Indonesia benar-benar disegani di 2026, ia harus berani mengambil jarak dari PBB yang sudah jadi mainan Israel. Aktif di BRICS bukan berarti kita memusuhi Barat, tapi kita sedang menaruh telur di keranjang yang lebih adil. Bagi rakyat di Indonesia Raya, keberhasilan diplomasi bukan diukur dari berapa kali delegasi kita pidato di New York, tapi bagaimana aliansi global tersebut bisa menurunkan harga pangan dan menjamin kedaulatan energi tanpa disetir kepentingan asing.

​Diplomasi kita jangan hanya jadi penonton di teater yang skenarionya sudah basi. Saatnya Indonesia memimpin di poros baru.

   
        Konteks Terkait:                     “Bukan Sekadar Berebut Kursi”            
   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *