MATARAM — Dalam setahun terakhir, kepemimpinan Dr. Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal) di Nusa Tenggara Barat telah melahirkan narasi-narasi baru yang keluar dari pakem birokrasi tradisional. Mantan Duta Besar ini dikenal memiliki gaya komunikasi yang ringkas, data-sentris, namun memiliki “daya pukul” (punchy) yang kuat.
Getnews mengumpulkan intisari pemikiran sang Gubernur yang menjadi arah baru bagi Bumi Gora:
1. Tentang Ekonomi dan Kemiskinan
Bagi Miq Iqbal, kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan “musuh teritorial” yang harus diperangi dengan kedaulatan ekonomi.
“Dulu pahlawan kita berjuang merebut wilayah, sekarang kita berjuang merebut kedaulatan ekonomi. Musuh kita hari ini adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.”
“Politik adalah jalan, bukan tujuan. Bagi kami, tujuan perjuangan jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan kepentingan.”
“Kita ingin NTB Makmur Mendunia. Makmurnya dulu, baru mendunianya. Kita tidak ingin ada satu pun rakyat yang tertinggal dalam gerbong kemajuan.”
2. Tentang Ekologi dan Masa Depan
Dalam kunker ke Sumbawa (21/1/2026), Gubernur menunjukkan ketegasan terhadap isu alih fungsi lahan yang selama ini menjadi tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
“Jangan sampai rezeki dari jagung hari ini, habis hanya untuk memperbaiki fasilitas umum yang rusak akibat banjir besok.”
“Alam tidak pernah bernegosiasi. Ketika tak ada lagi penahan air, ia akan membentuk jalan sendiri. Memperbaiki hutan adalah cara kita memperbaiki masa depan infrastruktur.”
3. Tentang Sampah dan Budaya
Miq Iqbal memandang sampah bukan sebagai masalah hilir (TPA), melainkan kegagalan hulu (budaya dan edukasi).
“Budaya mengolah sampah tanpa pemilahan itu mahal harganya. Kita harus memasukkan edukasi sampah ke kurikulum, agar anak-anak kita paham dampak dari setiap sisa yang mereka buang.”
“Nggak ada jalan lain, kita jadikan sampah ini sebagai energi. TPA Regional Kebon Kongok harus berhenti menjadi tempat pembuangan dan mulai menjadi pabrik energi.”
Baca Juga
Audit Sampah: Skema 40-40-20 →
4. Tentang Pembangunan dan Keadilan
Filosofi “Berkeadilan” menjadi landasan setiap proyek infrastruktur, memastikan tidak ada diskriminasi antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
“Pembangunan di NTB harus berkeadilan. Lombok dan Sumbawa harus tumbuh bersama, bukan saling mendahului.”
“Lima tahun ke depan adalah waktu untuk bukti, bukan janji. Rakyat tidak butuh teks visi, rakyat butuh dampak nyata yang bisa mereka rasakan di atas meja makan.”
“Kekuatan seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa keras ia berteriak, tapi pada seberapa tajam kalimatnya mampu mengubah arah kebijakan dan pola pikir rakyatnya.”
Analisis Getnews — Miq Iqbal membawa gaya diplomasi internasional ke dalam urusan domestik NTB. Setiap kutipannya mencerminkan pemikiran ‘High-Level’ namun tetap membumi (grounded). Ia tidak menggunakan jargon politik yang membosankan, melainkan logika sebab-akibat yang memaksa kita untuk berpikir. Dalam dunia media yang bising, kutipan-kutipan ‘punchy’ seperti ini adalah komoditas mahal yang membangun kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.




