MAKASSAR — Operasi SAR pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung memasuki babak baru pada hari keenam, Kamis (22/01/2026). Di tengah keberhasilan temuan kotak hitam (black box), Kepala Basarnas RI menekankan bahwa fokus utama operasi tetap pada pencarian dan penyelamatan korban yang masih terjebak di medan berat Pangkep.
Otoritas Basarnas: Korban Adalah Prioritas
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) RI, Mohammad Syafii, dalam keterangan resminya di Makassar menegaskan bahwa meskipun alat rekam penerbangan telah diamankan, misi kemanusiaan belum usai. Basarnas tidak ingin terjebak dalam euforia temuan teknologi sementara masih ada korban yang belum dievakuasi.
“Selama masih ada korban yang belum ditemukan, itu tetap menjadi prioritas kami. Hari ini alhamdulillah black box sudah ditemukan, namun tujuan utama operasi ini adalah pencarian dan penyelamatan korban,” tegas Mohammad Syafii.
Ia menambahkan bahwa peran Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sejak hari kelima menjadi kunci percepatan evakuasi. Intervensi ini berhasil menurunkan intensitas cuaca buruk hingga 30 persen, memungkinkan helikopter menembus area drop zone di lereng Bulusaraung yang sebelumnya tertutup kabut tebal.
Identifikasi DVI Menjadi Kunci
Terkait temuan 7 kantong berisi potongan tubuh, pihak Basarnas menyerahkan sepenuhnya validasi jumlah individu kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Syafii mengimbau publik untuk tidak berspekulasi mengenai jumlah total korban meninggal sebelum ada rilis resmi dari otoritas medik kepolisian.
“Mesin bisa menjelaskan penyebab kecelakaan, namun hanya kemanusiaan yang mampu memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang berpulang.”
Referensi Otoritas:
Keterangan resmi Kepala Basarnas RI (Mohammad Syafii) dan laporan perkembangan Posko SAR Gabungan Pangkep per 22 Januari 2026.




