DAVOS, Swiss — Sebagai bagian dari paket “privilese” pasca-penandatanganan piagam Board of Peace (BoP), Presiden Prabowo Subianto menerima undangan resmi dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menghadiri Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Pertemuan yang berlangsung di sela-sela forum WEF pada Kamis (22/1/2026) ini, mencerminkan bagaimana pengakuan internasional terhadap Indonesia kini merambah ke ranah pengaruh budaya dan olahraga.
Audit Intelijen: Mengapa FIFA dan AS?
Kehadiran legenda sepak bola dunia, Zinedine Zidane, dalam lingkaran diskusi tersebut memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia sedang diposisikan sebagai “mitra emas” di mata Barat. Analisis INDONESIA INSIGHTS melihat adanya tiga dimensi strategis di balik undangan ini:
- Validasi Geopolitik di Tanah AS: Piala Dunia 2026 (AS, Kanada, Meksiko) adalah karpet merah bagi Prabowo untuk melakukan diplomasi lanjutan dengan elit korporasi dan politik AS di luar protokol kenegaraan yang kaku. Ini adalah akses langsung ke “halaman belakang” Washington.
- Sepak Bola sebagai Mesin Ekonomi: Diskusi strategis dengan FIFA selaras dengan visi Sport Tourism yang sedang diakselerasi pemerintah. Ini adalah upaya mengonversi fanatisme domestik menjadi industri olahraga global yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
- Keseimbangan Narasi (PR Buffer): Setelah mengambil keputusan transaksional yang “pedas” di mata poros BRICS, privilese dari FIFA berfungsi sebagai peredam isu politik. Ini menciptakan citra Indonesia sebagai negara yang dinamis, terbuka, dan diterima di berbagai lini elit global.
Deep Dive: The Davos Series
Baca Analisis Utama:
Pragmatisme Transaksional Prabowo—Mengapa BRICS Ditinggalkan di Davos?
Audit Strategis: FIFA, BoP, dan Diplomasi Amerika Serikat
Vonis Redaksi: Beyond the Game
Undangan Piala Dunia 2026 adalah “bonus” diplomatik yang mempertegas bahwa pilihan Prabowo berlabuh ke orbit BoP memberikan akses langsung ke lingkaran elit global. Namun, GET !NSIGHT mengingatkan bahwa privilese ini adalah bagian dari the art of the deal—di mana setiap jabat tangan dengan Infantino atau Zidane merupakan pantulan dari konsesi strategis yang telah disepakati di meja perundingan ekonomi-politik Davos.
“Di panggung dunia, sebuah gol tidak hanya dicetak di lapangan hijau, tapi seringkali dimulai dari kesepakatan di ruang-ruang dingin Davos.”




