ANALISIS GETNEWS GET !NSIGHT

BEYOND RAFALE: Membedah Akrobat ‘Le Accolade’ Prabowo-Macron di Élysée

Analisis audit strategis kemitraan Indonesia-Prancis pasca pertemuan di Istana Élysée (Muchlis JS-Kesekretariatan Presiden)

​Pelukan hangat (le accolade) antara Presiden Prabowo Subianto dan Emmanuel Macron di gerbang Istana Élysée bukan sekadar formalitas protokoler Eropa. Ini adalah sebuah Akrobat Geopolitik yang menandai pergeseran arah angin diplomasi Jakarta. Di balik kemewahan jamuan santap malam di Le Salon des Portraits, tersimpan pesan kuat bahwa Indonesia tidak lagi sekadar menjadi “pembeli” alutsista, melainkan mitra jangkar (anchor partner) Prancis di tengah karut-marut konstelasi Indo-Pasifik.

Audit Strategis: Poros Jakarta-Paris 2026

Elemen DiplomasiAnalisis Kedalaman (Deep Insight)
Simbolisme PelukanTransformasi dari Hubungan Transaksional ke Kemitraan Intim (Trust Building).
Otonomi StrategisSinkronisasi Visi ‘Non-Blok’ RI dengan Ambisi Kemandirian Eropa ala Macron.
Dampak AlutsistaPeralihan Fokus: Bukan Lagi Sekadar Membeli, Tapi Transfer Teknologi Total.

Penyakit Kronis: Transaksionalisme Tanpa Kepercayaan

​Selama dekade terakhir, hubungan pertahanan Indonesia-Prancis sering kali menderita penyakit kronis “transaksionalisme dingin”—hubungan yang hanya sebatas kontrak jual-beli Rafale atau kapal selam Scorpène. Namun, pertemuan empat mata di Paris malam itu mencoba menyembuhkan anomali tersebut melalui trust building yang sangat personal. Macron menyadari bahwa Indonesia adalah kunci untuk menyeimbangkan dominasi aliansi AUKUS dan hegemoni Tiongkok.

Anomali Strategis: Poros Penyeimbang Non-Blok

​Kehadiran Prabowo di Élysée tepat setelah meninggalkan Davos menunjukkan sebuah Anomali Strategis yang cerdas. Jika di Davos ia berbicara tentang kedaulatan ekonomi (Prabowonomics), di Paris ia mengamankan payung keamanan politiknya. Diplomasi tatap muka ini membuktikan bahwa Indonesia sedang membangun poros penyeimbang yang asertif.

Vonis Redaksi: Menanti Implementasi di Lapangan

​Meski jamuan di Élysée dibalut kemesraan, Vonis Redaksi tetap tertuju pada realitas implementasi. Kehangatan di Paris harus mampu diterjemahkan menjadi dukungan Prancis terhadap kedaulatan maritim Indonesia di Natuna. Pelukan di gerbang istana adalah simbol kemenangan soft power, namun kedaulatan sejati tetap akan diuji pada seberapa jauh Paris berdiri di samping Jakarta saat badai geopolitik di Laut China Selatan benar-benar pecah.

“Diplomasi yang paling perkasa tidak ditemukan dalam tumpukan dokumen, melainkan dalam hangatnya jabat tangan yang mampu melunakkan ketegangan dunia.”

— GET !NSIGHT DOGMA DIGITAL —

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *