JAKARTA — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) resmi merilis laporan kesehatan ekonomi nasional dalam rapat berkala pertama tahun 2026, Senin (27/1). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa sistem keuangan Indonesia tetap berada dalam koridor terjaga sepanjang 2025. Namun, di balik narasi stabilitas tersebut, pemerintah kini harus berhadapan dengan volatilitas pasar global yang kian liar akibat eskalasi perang dagang AS-Tiongkok.
1. Audit Pertumbuhan: Ambisi 5,4 Persen di 2026
KSSK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 mendarat di angka 5,2 persen. Menariknya, untuk tahun 2026, pemerintah menaikkan target menjadi 5,4 persen. Optimisme ini bersandar pada revisi naik IMF terhadap pertumbuhan global menjadi 3,3 persen dan agresivitas The Fed yang memangkas suku bunga ke kisaran 3,50-3,75 persen pada akhir 2025.
2. APBN Sebagai “Shock Absorber”: Sisi Gelap Defisit
Hingga akhir 2025, APBN bekerja ekstra keras dengan realisasi belanja menembus Rp3.491,4 triliun. Menkeu Purbaya menyebut APBN berperan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli. Namun, audit GetNews menyoroti angka Defisit APBN sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Angka ini berada di titik kritis, sangat mepet dengan batas aman konstitusi sebesar 3 persen.
“KSSK akan terus mencermati dan melakukan assessment forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut,” ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers di Jakarta.
3. Penyakit Kronis: Moderasi Komoditas dan Pendapatan
Realisasi pendapatan negara yang hanya mencapai 91,7 persen (Rp2.756,3 triliun) mengindikasikan adanya Penyakit Kronis akibat moderasi harga komoditas global. Ketidakmampuan pendapatan mencapai target 100 persen di tengah belanja yang ekspansif adalah sinyal bahwa ruang fiskal Indonesia di 2026 akan semakin sempit.
Vonis Redaksi: Akrobat di Tepi Jurang
Vonis Redaksi GetNews menegaskan bahwa sinergi antara Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS adalah satu-satunya alasan mengapa Indonesia belum terperosok ke dalam krisis fiskal. Namun, mengandalkan APBN sebagai satu-satunya shock absorber dengan defisit yang nyaris menyentuh plafon legal adalah sebuah akrobat yang berisiko tinggi. Tahun 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya: mampukah konsumsi domestik menopang target 5,4 persen saat pendapatan negara mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan?
Verified Archive & Primary Citation
Source: Konferensi Pers KSSK | Jan 27, 2026
“Laporan Berkala KSSK Pertama 2026: Stabilitas Sistem Keuangan Nasional.”
OFFICIAL FISCAL ARCHIVE ⟶“Stabilitas ekonomi bukanlah angka diam di atas kertas, melainkan hasil dari keberanian mengelola risiko di tengah ketidakpastian; karena saat pondasi fiskal retak, harapan jutaan rakyatlah yang menjadi taruhannya.”
— GET NEWS !NSIGHT —




