GET CORNER SOSOK

Audit Eksistensial: Kerumunan Absurditas – Mengapa Kafka Menggugat Partai Politik?

Franz Kafka (istimewa)

Dalam belantara birokrasi yang dingin dan lorong-lorong kekuasaan yang berliku, kutipan Franz Kafka mengenai partai politik muncul bukan sebagai lelucon, melainkan sebuah Audit Eksistensial terhadap konsentrasi massa. Kafka, sang maestro absurditas, melihat partai politik sebagai entitas di mana akal sehat individu seringkali lebur dan menguap ke dalam kebodohan kolektif yang terorganisir.

​Bagi Kafka, kekuasaan yang terkonsentrasi di tangan banyak orang sering kali melahirkan korupsi sistemik yang terbungkus rapi dalam protokol institusional. Seperti seorang detektif yang menelusuri jejak kriminal, Kafka mendesak kita untuk merobek lapisan sistem politik dan menemukan kekurangan yang melekat di dalamnya. Dalam pandangannya, institusi politik sering kali bertindak serupa tersangka dalam sebuah kasus: mereka cenderung melayani kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan kebaikan bersama.

“Seorang bodoh adalah seorang bodoh. Dua orang bodoh adalah dua orang bodoh. Sepuluh ribu orang bodoh adalah sebuah partai politik.”Franz Kafka.

Audit Eksistensial: Kolektivitas vs Integritas

Dimensi MoralOutput Kontemplasi
Keabsurditas KekuasaanAnalisis: Bahwa jumlah pengikut tidak menjamin kebenaran. Partai politik sering menjadi ruang di mana kesalahan kolektif dilegalkan.
Kewaspadaan DetektifMakna: Setiap warga negara harus memiliki mata cerdas seorang detektif untuk mempertanyakan setiap otoritas dan tidak menelan mentah janji institusional.
Tanggung Jawab PublikVonis Spiritual: Pengawasan ketat adalah satu-satunya cara menantang sistem yang melanggengkan ketidakadilan. Diam berarti membiarkan korupsi kolektif tumbuh.

Vonis Redaksi:

Kritik Kafka adalah panggilan untuk kesadaran yang terjaga. Di dunia di mana partai politik sering kali hanya melayani mereka yang bertanggung jawab di puncaknya, kewaspadaan individu menjadi benteng terakhir kebenaran. Hanya melalui pengawasan dan keberanian untuk mempertanyakan setiap tindakan pemimpin, kita bisa berharap untuk keluar dari labirin birokrasi yang menyesatkan dan menciptakan kedaulatan yang sejati.

“Institusi sering kali menjadi tempat di mana doa-doa kemanusiaan hilang dalam kebisingan kepentingan; jadilah detektif bagi nuranimu sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *