JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) kini tengah menghadapi ujian integritas. Di saat Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melancarkan kampanye agresif untuk memberantas praktik “saham gorengan”, dukungan mulai mengalir dari sektor yang tidak terduga: kelompok aktivis mahasiswa.
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap langkah tegas bendahara negara tersebut. Bagi para aktivis ini, manipulasi harga saham bukan sekadar anomali teknis, melainkan kejahatan sistemik yang memangsa investor ritel—khususnya generasi muda yang minim literasi namun memiliki antusiasme tinggi terhadap pasar modal.
Parasit Ekonomi dan Jebakan Pump-and-Dump
Ketua Bidang Investasi dan Keuangan PP KAMMI, Arif Rahman, menggambarkan saham gorengan sebagai “parasit bagi ekonomi nasional”. Dalam keterangannya (01/02), ia menyoroti bagaimana skema pump-and-dump—praktik menggelembungkan harga secara artifisial sebelum menjualnya secara massal—telah menghanguskan aset banyak mahasiswa dan masyarakat umum.
Argumen Arif tajam: pasar modal Indonesia mustahil mencapai kematangan global jika praktik manipulatif masih menjadi norma. Menurutnya, negara tidak seharusnya memberikan insentif pajak atau fasilitas fiskal kepada pasar yang masih membiarkan kecurangan berkembang biak.
Momentum Pembersihan
Tuntutan mahasiswa ini menambah tekanan politik bagi OJK dan BEI untuk tidak hanya bertindak sebagai pencatat transaksi, tetapi juga sebagai polisi yang responsif terhadap anomali. KAMMI mendesak adanya pengawasan yang lebih granular, terutama terhadap kampanye keuntungan tidak wajar yang sering beredar di media sosial.
Langkah Menteri Purbaya diharapkan tidak hanya menjadi “gertakan” musiman, melainkan titik balik bagi ekosistem investasi Indonesia. Jika Jakarta berhasil membersihkan bursa dari praktik curang, aliran modal asing dan domestik akan datang dengan sendirinya, bukan karena iming-iming janji, melainkan karena kepercayaan pada fondasi hukum yang kokoh.
Verified Source: InfoPublik.id




