GET DATA STATISTIK

Paradoks Agraria di Nusa Tenggara Barat: Melimpah Namun Tertekan

MATARAM – ​Di tengah panorama perbukitan hijau Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah realitas ekonomi yang kontras tengah membayangi para petani. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sektor penyokong utama ekonomi provinsi ini sedang berada dalam tekanan ganda: deflasi harga jual di tingkat produsen dan kenaikan biaya hidup yang kian mencekik.

​Data terbaru mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Januari 2026 turun tajam sebesar 2,66% menjadi 130,31 dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan jurang yang semakin lebar antara pendapatan petani dan pengeluaran rumah tangga mereka.

​Ketika Harga Jual Merosot

​Penurunan NTP didorong oleh merosotnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,52%. Fenomena ini paling terasa pada dua sektor fundamental:

  • Hortikultura: Mencatat penurunan terdalam sebesar 4,09%, dipicu oleh anjloknya harga komoditas seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah.
  • Tanaman Pangan: Mengalami penurunan 2,75%, terutama disebabkan oleh melemahnya harga gabah di tingkat petani.

​Ironisnya, saat harga komoditas ini jatuh di sawah, konsumen di perkotaan tidak sepenuhnya merasakan keringanan yang sama. Inflasi di NTB justru tetap merangkak naik sebesar 0,27% secara bulanan, didorong oleh naiknya harga emas perhiasan dan biaya perawatan pribadi.

Audit Strategis: Nilai Tukar Petani Januari 2026

SubsektorNilai Tukar (NTP)Perubahan (%)
Hortikultura239,96▼ 4,09%
Tanaman Pangan123,02▼ 2,75%
Peternakan112,77▼ 0,11%
Perikanan110,14▲ 3,31%

Mengharap Arus Balik

​Di tengah suramnya angka-angka tersebut, sektor perikanan memberikan sedikit napas lega dengan kenaikan NTP sebesar 3,31%. Namun, bagi mayoritas petani di pedalaman NTB, realitas saat ini tetaplah sebuah perjuangan melawan biaya produksi yang tinggi dan fluktuasi pasar yang tak berpihak.

​Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah untuk menstabilkan harga di tingkat hulu. Tanpa intervensi strategis, “senyum nyaman” yang dijanjikan dalam program literasi digital pemerintah mungkin akan terasa hambar bagi mereka yang setiap harinya bergulat dengan lumpur sawah.

Verified Source: BPS NTB

Intelligence Data Center

BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026

"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *