MATARAM – Sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) menutup tahun 2025 dengan catatan yang penuh warna, sekaligus menyimpan teka-teki strategis bagi para pembuat kebijakan di Mataram. Di satu sisi, arus wisatawan mancanegara menunjukkan vitalitas yang menjanjikan; di sisi lain, industri perhotelan masih harus berjuang melawan durasi inap yang singkat dan fluktuasi pasar domestik.
Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, NTB berhasil menarik kumulatif 2,66 juta tamu menginap, dengan komposisi dominan pada hotel bintang. Namun, data ini menyembunyikan realitas lapangan yang lebih kompleks mengenai efisiensi sektor jasa ini.
Efisiensi Hotel: Tantangan Okupansi dan Durasi
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) pada Desember 2025 memberikan gambaran yang moderat. Hotel bintang mencatat angka 56,22%, sedikit menurun dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, hotel non-bintang masih beroperasi jauh di bawah kapasitas idealnya dengan TPK hanya sebesar 23,19%.
Masalah yang lebih mendesak bagi para pemilik hotel adalah durasi menginap. Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di hotel bintang tercatat hanya 1,80 hari, sedangkan di hotel non-bintang lebih rendah lagi, yakni 1,54 hari. Bagi industri yang mengandalkan perputaran jasa, angka di bawah dua hari ini menandakan bahwa NTB masih sering dianggap sebagai destinasi persinggahan ketimbang destinasi akhir bagi masa liburan yang panjang.
Profil Wisatawan: Dominasi Tetangga dan Gairah Lokal
Wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pada Desember 2025 didominasi oleh tiga negara utama: Malaysia (2.951 orang), Singapura (541 orang), dan Jerman (408 orang). Kedekatan geografis dengan Malaysia dan Singapura terus menjadi penyokong utama arus turis asing ke NTB.
Di sisi lain, pergerakan wisatawan nusantara tetap menjadi “tulang punggung” ekonomi lokal. Kota Mataram menjadi destinasi favorit utama bagi turis domestik dengan porsi perjalanan sebesar 28,21%, disusul oleh Lombok Barat dan Lombok Tengah.
Meskipun angka kunjungan secara tahunan naik sebesar 3,27% (y-on-y), NTB masih harus berjuang menghadapi fenomena musiman yang tajam. Penurunan kunjungan wisman sebesar 23,02% dibandingkan November menunjukkan bahwa daya tarik provinsi ini masih sangat rentan terhadap kalender penerbangan internasional dan persaingan destinasi regional lainnya.
Bagi para pemangku kepentingan, pekerjaan rumah di tahun 2026 sudah jelas: bukan lagi sekadar menarik orang untuk datang, melainkan menciptakan alasan agar mereka menetap lebih lama dari sekadar dua malam.
Verified Source: BPS NTB
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




