GET DATA STATISTIK

Benteng Dagang Jakarta: Surplus di Tengah Gejolak Global

Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sebuah anomali positif: neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 membukukan surplus sebesar US$41,05 miliar. (ILUSTRASI/ISTIMEWA)

​JAKARTA – Di tengah kelesuan permintaan global dan fragmentasi geopolitik yang kian tajam, mesin ekspor Indonesia terbukti lebih tangguh dari perkiraan banyak analis. Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sebuah anomali positif: neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 membukukan surplus sebesar US$41,05 miliar.

​Angka ini bukan sekadar statistik rutin; ia merepresentasikan lonjakan signifikan sebesar US$9,72 miliar dibandingkan tahun 2024. Bagi Jakarta, ini adalah bantalan ekonomi yang krusial untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian suku bunga global.

​Mesin Industri dan Paradoks Energi

​Dibalik angka surplus yang mentereng, terdapat dualitas yang mencolok antara sektor manufaktur dan energi. Sektor industri pengolahan muncul sebagai pahlawan baru dengan mencatat ekspor senilai US$227,10 miliar, tumbuh impresif 14,47%.

​Namun, ketergantungan pada energi fosil luar negeri tetap menjadi “tumit Achilles” bagi perdagangan Indonesia. Sektor migas masih terperosok dalam defisit sebesar US$19,70 miliar, yang beruntungnya mampu ditutup oleh kegagahan ekspor nonmigas yang mencetak surplus fantastis sebesar US$60,75 miliar.

​Audit Strategis: Peta Ekspor Global Indonesia 2025

​Dominasi Tiongkok sebagai mitra dagang utama belum tergoyahkan, namun ketergantungan ini membawa risiko konsentrasi yang patut diwaspadai.

Audit Strategis: Destinasi Ekspor Utama 2025

Negara TujuanNilai (US$ Miliar)Komoditas Dominan
Tiongkok (24,02%)64,82BESI, BAJA, & NIKEL
Amerika Serikat (11,47%)30,96MESIN ELEKTRIK & ALAS KAKI
India (6,79%)18,32CPO & BATUBARA

Diversifikasi atau Mati

​Meskipun Tiongkok masih menyerap hampir seperempat dari total ekspor nonmigas Indonesia, pertumbuhan ekspor ke Amerika Serikat menunjukkan sinyal menarik. Washington kini lebih banyak mengonsumsi produk hilirisasi mesin dan perlengkapan elektrik dari Indonesia, sebuah tanda bahwa kebijakan hilirisasi mulai membuahkan hasil di luar komoditas nikel.

​Deputi Bidang Statistik BPS Ateng Hartono menegaskan bahwa kinerja ini didorong oleh kenaikan nilai ekspor kumulatif sebesar 6,15%. Bagi para pengambil kebijakan di Lapangan Banteng, tantangan 2026 adalah mempertahankan momentum surplus ini saat harga komoditas global mulai mendingin dan proteksionisme perdagangan kembali menghangat.

Verified Source: InfoPublik.id

Intelligence Data Center

BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026

"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *