GET INFO – Klarifikasi Sekretariat Kabinet mengenai penggunaan satu armada tunggal Garuda Indonesia Boeing 777-300ER untuk perjalanan luar negeri Presiden Prabowo bukan sekadar bantahan atas rumor. Secara teknis, langkah ini merupakan koreksi atas inefisiensi logistik yang selama ini menjadi beban protokol kepresidenan.
Mengapa menggunakan satu pesawat besar (B777) lebih efisien daripada dua pesawat kecil (B737 & Privat)? Mari kita bedah anatomi datanya.
Rasionalitas “Single Flight”
Penggunaan B777-300ER milik Garuda Indonesia memungkinkan Presiden membawa seluruh perangkat wajib—Paspampres, protokol, tim medis, hingga wartawan—dalam satu atap kabin. Pada era sebelumnya, keterbatasan kapasitas pesawat kepresidenan BBJ (berbasis B737) seringkali memaksa pemerintah menyewa pesawat tambahan atau menggunakan pesawat TNI AU sebagai pengangkut logistik dan personel pendukung.
Secara finansial, satu penerbangan langsung jarak jauh jauh lebih murah dibandingkan dua penerbangan yang harus melakukan beberapa kali pemberhentian untuk pengisian bahan bakar (refuelling). Setiap kali pesawat transit, negara harus membayar biaya pendaratan (landing fee), biaya navigasi, dan akomodasi kru serta rombongan yang membengkak.
Menjual “Etalase Nasional”
Lebih dari sekadar angka, pilihan ini adalah manuver soft power. Dengan mendaratkan Boeing 777 berlogo Garuda Indonesia di bandara-bandara utama dunia seperti London, Washington, atau Beijing, Indonesia mengirimkan pesan visual yang kuat tentang kapasitas maskapai nasionalnya.
Prabowo tampaknya ingin menghapus citra “pejabat yang bepergian dengan jet mewah pribadi” menjadi “kepala negara yang bepergian dengan armada kebanggaan rakyatnya”. Ini adalah bentuk penghematan yang dibungkus dengan martabat nasional.




