Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemprov NTB itu harus punya kesabaran setebal kamus hukum. Bagaimana tidak? Nasib karier Anda ternyata bukan cuma ditentukan oleh garis tangan atau restu pimpinan tertinggi, tapi bisa saja “nyangkut” di meja salah satu Kepala Biro.
Saat banyak media menaikkan beritanya, tentang beda pandangan, ini adalah sebuah puisi satir yang nyata: “Beda Pandangan Berujung Demosi”. Bayangkan, Gubernur—sang pemegang mandat rakyat dan penguasa puncak di gedung putih Jalan Pejanggik—sudah memberikan anggukan setuju. Usulan BKD pun sudah meluncur. Tapi apa daya, ketika sampai di meja Karo Organisasi, restu itu berubah jadi vonis turun pangkat. Dalam dunia birokrasi, ini seperti Anda sudah dapat izin nikah dari calon mertua, tapi ditolak oleh ketua RT setempat.
Seni Melawan Arus Hierarki
Dalam kacamata AMBARA, kejadian ini menunjukkan bahwa hierarki di pemerintahan kita seringkali bersifat fiksi. Kita diajarkan bahwa Gubernur adalah pimpinan tertinggi, tapi realitanya, birokrasi adalah labirin yang punya penguasa di setiap tikungannya. Karo Organisasi nampaknya sedang menjalankan peran sebagai “penjaga gawang” yang lebih galak dari pemilik klubnya sendiri.
Perbedaan pandangan di kantor pemerintahan biasanya berujung pada diskusi atau minimal surat teguran. Tapi di sini, beda pandangan langsung berujung demosi—sebuah “hadiah” pahit yang membuat posisi Anda turun kelas. Ini adalah pesan tersirat bagi para abdi negara lainnya: di sini, Anda tidak dibayar untuk punya pandangan berbeda, Anda dibayar untuk menjadi gema yang setuju pada frekuensi yang sama dengan penjaga labirin.
Demokrasi di Balik Meja Kayu
Kita sering bicara soal demokrasi di mimbar-mimbar pidato, tapi di balik meja-meja kayu kantor pemerintahan, yang berlaku adalah hukum “Siapa yang pegang berkas, dia yang berkuasa”. Demosi akibat beda pandangan adalah cara paling efektif untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi suara-suara sumbang yang berani mengusik kenyamanan prosedur.
Selamat bagi yang baru saja “turun kasta”. Jangan berkecil hati, anggap saja ini adalah kesempatan untuk menikmati pemandangan dari lantai bawah. Karena ternyata, di atas sana, perbedaan pandangan itu harganya terlalu mahal untuk dibayar dengan sekadar debat—dia harus dibayar dengan jabatan.
Tetaplah mengabdi, jangan banyak tanya, dan yang paling penting: pastikan pandangan Anda selalu searah dengan siapa pun yang memegang stempel hari ini.




