MATARAM — Roda ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) menutup tahun 2025 dengan raungan mesin yang cukup kencang. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Triwulan IV-2025 yang mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 12,49 persen secara tahunan (year-on-year). Jika dilihat secara kumulatif selama setahun penuh, ekonomi NTB tumbuh stabil di angka 3,22 persen.
Namun, bagi pembaca setia GETNEWS, angka dua digit ini bukan tanpa catatan. Lonjakan tajam ini dipicu oleh dua kutub utama: Pertambangan dan Industri Pengolahan. Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan gila-gilaan sebesar 137,78 persen (y-on-y). Ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah sinyal bahwa konsentrat hasil bumi kita sedang laris manis di pasar global, yang tercermin dari pertumbuhan ekspor yang menembus 103,11 persen.
Paradoks Galian dan Kontraksi Pertanian
Meski sektor tambang dan industri pengolahan sedang “pesta pora”, sektor penyangga perut rakyat—Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan—justru mengalami kontraksi sebesar 16,22 persen secara kuartalan (q-to-q). Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ekonomi NTB masih sangat bergantung pada apa yang digali dari perut bumi, sementara sektor yang menyerap banyak tenaga kerja lokal justru sedang “batuk-batuk” di akhir tahun.
Secara nominal, PDRB NTB pada triwulan ini mencapai Rp52,04 triliun. Dengan angka tersebut, pendapatan per kapita warga NTB di tahun 2025 kini berada di kisaran Rp33,67 juta. Angka yang lumayan mentereng, selama kita tidak lupa bahwa sebagian besar kue pembangunan ini masih sangat didominasi oleh fluktuasi harga komoditas tambang dan gairah ekspor.
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




