Dunia kuliner kita kedatangan menu baru yang sangat tidak sehat: saham gorengan ala Minna Padi Aset Manajemen. Kalau biasanya kita cuma kenal gorengan bakwan seharga dua ribu perak, yang ini kelasnya beda. Sekali goreng, rekening senilai Rp467 miliar langsung “gosong” alias diblokir gara-gara terendus aroma skandal.
Kasus ini membuktikan bahwa menjadi kaya di pasar modal itu terkadang butuh kreativitas luar biasa—terutama kreativitas dalam memanipulasi angka agar terlihat seksi di mata investor. Minna Padi rupanya lupa kalau di bursa saham, bumbunya bukan cuma nyali, tapi juga regulasi. Begitu bumbunya kebanyakan micin alias manipulasi, ya siap-siap saja diciduk “koki” bursa.
Pelaku pasar modal kita memang punya daya imajinasi tinggi. Uang hampir setengah triliun rupiah diputar-putar seolah-olah itu koin mainan di wahana Ding Dong. Bedanya, kalau di Ding Dong kita cuma rugi koin, di Minna Padi yang rugi adalah kepercayaan publik terhadap investasi saham yang “halal dan toyiban”.
Pemblokiran rekening ini adalah hukuman setimpal, walau biasanya para pemain besar ini selalu punya seribu satu cara untuk berkelit dengan istilah teknis hukum yang bikin pusing tujuh keliling. Bagi kita kaum mendang-mending, skandal ini jadi pengingat: kalau ada saham yang naiknya lebih cepat daripada emosi netizen saat bahas politik, kemungkinan besar itu adalah gorengan yang sebentar lagi bakal bikin kolesterol portofolio kamu melonjak.
Ingat, kawan-kawan. Di bursa saham, tidak ada makan siang gratis. Yang ada cuma bandar yang lagi nungguin kita buat bayar tagihan makan siang mereka lewat “sumbangan” di saham-saham ajaib macam ini.




