MATARAM — Lombok tidak lagi sekadar menjadi panggung balap motor setahun sekali. Di bawah nakhoda Gubernur Lalu Muhamad Iqbal, kawasan Mandalika sedang dipaksa keluar dari zona nyaman “pariwisata musiman” menuju ekosistem ekonomi terpadu yang hidup sepanjang tahun. Audit strategis GetNews melihat adanya pergeseran paradigma: dari mengejar jumlah wisatawan menjadi mengejar kualitas investasi.
1. Purifikasi Gerbang Udara
Bandara Lombok (BIZAM) kini diposisikan sebagai “kantor depan” bagi para investor. Dengan suntikan dana Rp130 miliar untuk modernisasi terminal, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa pengalaman transit adalah bagian dari jaminan kenyamanan bagi modal asing. Rencana pembukaan jalur internasional ke Darwin bukan sekadar urusan turis, melainkan pembukaan jalur logistik strategis di Indonesia Timur.
2. Penyakit Kronis: Ketergantungan Event
Analisis ini menemukan bahwa selama ini Mandalika menderita “Penyakit Kronis” berupa ketergantungan pada event besar seperti MotoGP. Masterplan 2026 mencoba menyembuhkan ini dengan membagi lahan menjadi distrik-distrik tematik—seperti Marina West dan Merese Sunset Hill—yang dirancang untuk menarik konsumsi sepanjang tahun.
3. Review Struktural: Keseimbangan Hijau
Yang menarik dari ambisi ini adalah komitmen mempertahankan 34% ruang hijau. Di tengah gempuran beton pariwisata, angka ini menjadi indikator apakah Mandalika akan menjadi suksesor berkelanjutan bagi Bali atau sekadar replika pembangunan masif yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Audit Strategis: Mandalika & BIZAM 2026
| Komponen Utama | Target & Realisasi | Vonis Otoritas |
|---|---|---|
| Pemanfaatan Lahan | 34% Ruang Hijau & Publik | PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN |
| Kinerja Logistik | Pertumbuhan Kargo >130% | HUB LOGISTIK |
| Investasi Fasilitas | Modernisasi Rp130 Miliar | MODERNISASI |




