JAKARTA — Ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tidak hanya berjalan di tempat; ia sedang bersiap untuk berlari. Dengan pertumbuhan 5,11% secara tahunan (full-year) dan akselerasi mengejutkan sebesar 5,39% pada kuartal IV, Indonesia berhasil mematahkan keraguan para skeptis yang memperkirakan perlambatan akibat normalisasi harga komoditas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut momentum ini sebagai landasan untuk pertumbuhan yang lebih “tinggi dan berkelanjutan.” Namun, bagi pengamat dari luar, cerita sebenarnya bukan terletak pada angka utama (headline growth), melainkan pada apa yang terjadi di bawah kap mesin ekonominya: pergeseran dari ketergantungan sumber daya alam menuju kekuatan manufaktur dan konsumsi domestik yang tak tergoyahkan.
Investasi: Dari Tambang ke Mesin
Salah satu data paling mencolok dalam laporan ini adalah pertumbuhan Investasi (PMTB) yang didorong oleh lonjakan 17,99% pada sektor Mesin dan Perlengkapan. Ini adalah indikator kesehatan industri yang vital. Saat sektor pertambangan terkontraksi 0,66% akibat penurunan harga global, sektor manufaktur justru ekspansif sebesar 5,30%.
Kehadiran Danantara sebagai pengungkit investasi swasta mulai menunjukkan taringnya, menyelaraskan modal BUMN dengan ambisi industrialisasi. Indonesia tampaknya sedang bertransformasi dari sekadar “penggali lubang” menjadi “pembuat barang”—sebuah transisi yang lama diidamkan namun sulit dicapai.
Konsumsi: Shock Absorber yang Efektif
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan pertumbuhan 4,98%, ditopang oleh inflasi yang terkendali dan belanja pemerintah yang berperan sebagai shock absorber. Pengeluaran sebesar Rp805,4 triliun untuk program prioritas, termasuk stabilisasi harga, terbukti efektif menjaga daya beli.
Menariknya, sektor transportasi dan akomodasi tumbuh di atas 7%, mencerminkan mobilitas masyarakat yang telah kembali ke level pra-pandemi, diperkuat oleh kebijakan stimulus seperti diskon transportasi dan program bantuan sosial yang tepat sasaran.
Audit Strategis: Performa Makroekonomi Indonesia 2025
Pertumbuhan yang inklusif tercermin dari turunnya angka kemiskinan menjadi 8,25% dan tingkat pengangguran yang menyusut ke 4,74%.
Kesimpulan: Menuju 5,4% di 2026
Pemerintah kini mematok target optimis 5,4% untuk tahun 2026. Fondasi yang diletakkan pada tahun 2025—investasi tinggi di manufaktur, penguatan konsumsi pangan lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan stabilitas makrofiskal—adalah bahan bakar utamanya. Namun, tantangan tetap ada pada sektor pertambangan yang masih lesu dan dinamika harga komoditas global. Jika Jakarta mampu mempertahankan ritme sinergi fiskal-moneter ini, Indonesia bukan lagi sekadar pasar yang besar, melainkan basis produksi yang tangguh di Asia Tenggara.
Verified Source: kemenkeu.go.id




