Di dunia akademik, angka adalah segalanya. Mahasiswa berlomba-lomba mengejar IPK setinggi langit demi masa depan gemilang. Namun, di Kecamatan Lenek, Lombok Timur, seluruh pencapaian akademik seorang mahasiswi PTN ternama mendadak jadi tidak relevan. Prestasinya di bangku kuliah kalah tenar oleh sebuah video berdurasi 13 menit 17 detik yang bocor ke publik.
Ironi ini terjadi di tengah program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebuah mata kuliah yang seharusnya menjadi ajang pembuktian bahwa mahasiswa bisa menjadi solusi bagi masalah desa. Alih-alih memberikan solusi, oknum ini justru memberikan “polusi” visual yang mencoreng wajah almamater dan kehormatan warga setempat.
Bukan rahasia lagi kalau KKN sering kali dianggap mahasiswa sebagai “masa liburan berkedok tugas”. Tapi apa yang terjadi di Lenek ini sudah melampaui batas kewajaran. Rekaman 13 menit itu adalah bukti bahwa kecerdasan kognitif di kampus tidak berbanding lurus dengan kecerdasan moral di tengah masyarakat.
Universitas terkait kini punya beban berat untuk mencuci muka. Di satu sisi mereka harus menjaga nama baik almamater, di sisi lain mereka harus menghadapi kenyataan bahwa produk pendidikannya baru saja menjadi tontonan massal dalam konteks yang salah.
Moral ceritanya sederhana: IPK tinggi mungkin bisa membantumu melamar kerja, tapi tidak bisa menyelamatkanmu dari amarah warga desa dan jejak digital yang permanen. Selamat merevisi “Laporan Pertanggungjawaban” hidup Anda, adik-adik mahasiswa.




