JAKARTA — Di tengah mendungnya awan ekonomi global, Indonesia mencoba memancarkan sinar terang. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Rabu, 11 Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto menerima laporan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal keempat menembus angka 5,39 persen—menahbiskan RI sebagai jawara pertumbuhan di antara negara-negara G20.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memamerkan otot ekonomi nasional yang ia klaim masih sangat tangguh. Selain pertumbuhan yang moncer, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan rekor surplus selama 68 bulan berturut-turut. “Fundamental kita kuat, cadangan devisa tinggi, dan peringkat kredit tetap di level investment grade,” ujar Airlangga.
Stimulus Rp60 Triliun dan ‘Jurus’ Danantara
Namun, pemerintah tidak sedang berpesta. Airlangga mengakui adanya ancaman outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional. Untuk menangkalnya, pemerintah mengandalkan peran BPI Danantara guna menggenjot penerimaan negara.
Sebagai mesin penggerak ekonomi domestik di awal tahun, anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp60 triliun mulai digelontorkan. Program ini diharapkan tidak hanya mengenyangkan siswa, tetapi juga menjadi stimulus bagi sektor riil yang kini tengah berada di zona ekspansi.
Audit Strategis: Arsitektur Stimulus Ekonomi Q1-2026
Pemerintah melakukan penggelontoran anggaran besar-besaran di triwulan pertama untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah risiko perlambatan global.
Subsidi Tiket dan WFA
Guna mendukung kelancaran mobilitas jelang Lebaran, pemerintah juga merogoh kocek hampir Rp1 triliun untuk subsidi tiket transportasi dan diskon tarif tol. Kebijakan ini diperkuat dengan penetapan hari kerja fleksibel (Work From Anywhere) pada pertengahan dan akhir Maret, sebagai upaya memecah arus kepadatan mudik tahun ini.
Meski angka-angka di atas kertas tampak cantik, ujian sesungguhnya bagi tim ekonomi Prabowo adalah memastikan triliunan rupiah tersebut benar-benar terserap secara efisien dan mampu menahan guncangan dari ketidakpastian global yang kian tajam.
Verified Source: BPMI SETPRES




