Mataram sedang bermimpi jadi Smart City, tapi sepertinya mimpinya terlalu nyenyak sampai lupa bangun untuk update status. Anggota Komisi III DPRD, Herman Fanani, baru saja melemparkan kritik pedas yang bikin telinga birokrasi merah padam. Pasalnya, jargon “kota pintar” yang dikejar Pemkot Mataram terasa jomplang dengan realita portal layanannya yang isinya lebih kosong daripada dompet di akhir bulan.
Bayangkan, kita sedang bicara tentang Satu Data Kota Mataram yang ternyata belum diisi, dan layanan keamanan siber MATARAMKOTA-CSIRT yang terakhir diperbarui saat orang-orang masih sibuk merayakan September 2025. Ini bukan lagi soal teknologi, ini soal niat. Jangan sampai “Smart City” cuma jadi hiasan spanduk di jalan protokol, sementara di dunia digital, Mataram masih pakai mode offline.
*geser tabel
Pesan moral buat pengelola IT di Mataram: Smart City itu butuh orang-orang yang rajin, bukan cuma orang-orang yang jago bikin pengajuan anggaran buat beli server baru. Sebelum mengejar pengakuan dunia, pastikan dulu portal Satu Data kalian punya isi, bukan cuma punya judul yang keren. Karena di mata masyarakat, data yang kosong itu lebih menyakitkan daripada nggak ada portal sama sekali.
Verified Source: LOMBOKPOST ONLINE




