AMBARA

Israel Masuk Board of Peace: Ketika “Arsitek Konflik” Menjadi “Pengawas Damai”

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu. (Istimewa/X/@LegitTargets)

​Dunia diplomasi baru saja mempertontonkan atraksi yang bikin dahi berkerut. Rabu (11/2), Israel resmi membubuhkan tanda tangan untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza. Penandatanganan ini dilakukan langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Blair House, Washington, di bawah tatapan restu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

​Keputusan ini memicu debat panas di jagat maya dan nyata. Bagaimana mungkin negara yang selama setahun terakhir menjadi pusat perhatian karena serangan militer masif di Gaza, kini duduk manis sebagai “pengawas” perdamaian di wilayah yang sama? Ini ibarat menunjuk serigala untuk menjadi ketua asosiasi perlindungan domba, atau menunjuk mantan pacar toksik untuk menjadi konsultan hubungan asmara Anda.

AMBARA AUDIT: Keanggotaan Israel di Board of Peace 2026
VariabelFakta DiplomasiSentilan Ambara
Lokasi EksekusiBlair House (Kediaman Tamu Presiden AS).Tempatnya eksklusif, jauh dari debu reruntuhan Gaza yang sebenarnya.
Aktor PendukungDonald Trump & Marco Rubio.Sutradaranya sama, cuma ganti judul film dari ‘War’ jadi ‘Peace’.
Dampak KeamananIsrael punya hak suara dalam rekonstruksi Gaza.Membangun kembali apa yang dihancurkan sendiri? Skema bisnis yang jenius sekaligus ironis.
Sumber: GetNews Intel Unit x Board of Shit

*geser tabel ke Gaza

Bagi banyak pengamat, bergabungnya Israel ke BoP adalah langkah strategis Donald Trump untuk memaksakan “stabilitas” dengan cara merangkul semua pihak dalam satu meja—tidak peduli seberapa berdarah rekam jejaknya. Namun bagi warga Gaza, ini mungkin terasa seperti lelucon pahit. Perdamaian yang dirancang oleh mereka yang memegang picu senjata tentu akan memiliki definisi yang berbeda dengan perdamaian yang diharapkan oleh para pengungsi.

​Masuknya Israel ke dewan ini juga memberikan legitimasi baru bagi Netanyahu di tengah tekanan domestik dan internasional. Dengan menjadi anggota BoP, ia kini punya perisai diplomatik bertajuk “Upaya Perdamaian Global”.

​Moral ceritanya: Di panggung politik internasional, kata “damai” terkadang hanyalah sebuah stiker yang ditempelkan di atas tumpukan berkas strategi militer. Kita hanya bisa berharap BoP ini tidak berakhir menjadi sekadar klub eksklusif para elit untuk membagi-bagi “kue” rekonstruksi, sementara rakyat jelata tetap harus menelan debu dari janji-janji yang tak kunjung terwujud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *