MATARAM — Ada yang bilang cinta itu butuh pengorbanan, tapi dalam politik anggaran, janji kampanye butuh “tumbal” fiskal. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi kartu as Presiden Prabowo kini bukan lagi sekadar isu sosial, melainkan horor sekaligus harapan bagi ekonomi nasional.
Kita sedang membicarakan logistik skala raksasa yang menelan biaya Rp1,24 Triliun setiap matahari terbit. Jika angka ini terus dipaksakan tanpa ada keran pendapatan baru dari sektor Nikel atau investasi Amerika Serikat, APBN kita sedang menghitung mundur menuju titik jenuh.
Namun, di balik angka yang membakar kantong negara, ada mesin ekonomi yang mulai panas di tingkat akar rumput. Mari kita bedah dua sisi mata uang ini.
BACA JUGA ANALISIS TERKAIT:
The Washington Gambit: Pragmatisme Jakarta di Atas Tanah yang TerkikisSisi Ngeri: Dashboard Risiko Fiskal
Membayar Rp1,24 Triliun per hari setara dengan membangun stadion skala internasional atau puluhan sekolah setiap harinya. Tanpa suntikan investasi asing masif, Indonesia sedang menempuh jalur fiskal paling berani dalam sejarah.
Sisi Sedap: Harapan di Balik Nasi Kotak
Meski bikin pusing pengelola utang, Presiden Prabowo sangat pede bahwa program ini adalah “Bantuan Likuiditas Langsung” yang paling konkret. Bukan korporasi besar yang disasar, melainkan koperasi desa dan pasar tradisional.
Berikut adalah proyeksi Multiplier Effect yang diharapkan pemerintah:
Vonis GetNews:
Meskipun “ngeri” bagi APBN, bagi rakyat di tingkat desa, program ini adalah suntikan dana segar yang paling terasa. Prabowo terpaksa “menundukkan” harga diri diplomatik di Washington (membawa Bahlil untuk barter Nikel) demi memastikan nasib jutaan porsi nasi kotak ini tetap aman. Indonesia sedang membeli kemakmuran jangka panjang dengan harga fiskal yang sangat mahal.




