GET DATA MACRO

Selamat Datang di Era Nyicil Kereta Cepat: Whoosh-nya Sekarang, Bayarnya Sampai Cucu Kita Masuk Kuliah

MATARAM — Ada pepatah bilang, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Nah, kalau dalam urusan APBN kita belakangan ini, pepatahnya agak dimodifikasi dikit jadi: “Sedikit demi sedikit, lama-lama buat bayar utang Whoosh.”

​Baru-baru ini, ekonom lagi ramai bahas soal dana APBN yang harus keluar sekitar Rp1,2 triliun per tahun cuma buat nutupin kewajiban proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh. Angka Rp1,2 triliun itu kalau dibelikan bakso di Lapangan Sangkareang, mungkin sewilayah NTB bisa kena kolesterol berjamaah.

Keretanya Cepat, Bayarnya yang “Slow Respons”

Masalahnya bukan soal keretanya yang keren dan bikin kita bangga pas posting di Instagram Stories. Masalahnya, ekonomi itu nggak cuma soal gaya, tapi soal “buku kas”. Ekonom bilang efek cicilan ini bakal berasa sampai puluhan tahun ke depan. Jadi, kalau sekarang kamu merasa cari kerja susah atau harga barang naik terus, ya salah satu “sumbangan” kecilnya masuk ke rel kereta itu.

​Dulu katanya proyek ini Business to Business (B2B), artinya murni urusan perusahaan dan nggak bakal ganggu duit rakyat di APBN. Tapi ya namanya juga hidup, rencana nggak selamanya mulus kayak jalanan di Mandalika pas baru diaspal. Akhirnya, APBN turun tangan juga buat jadi “penyelamat”.

Buat Apa Duit Rp1,2 Triliun Itu Sebenarnya?

Bayangkan kalau Rp1,2 triliun itu dipakai buat hal lain yang lebih “membumi” di NTB. Mungkin jalanan rusak di pelosok bisa mulus semua, atau beasiswa buat anak-anak muda kita bisa ditambah biar nggak cuma jago main mobile legends, tapi juga jago bikin teknologi.

​Tapi ya sudah, nasi sudah jadi bubur, dan buburnya pun bubur premium karena pakai kereta cepat. Sekarang tugas kita cuma satu: rajin-rajin bayar pajak ya, Lur. Biar cicilannya lancar dan negara kita nggak kena omelan penagih utang di tingkat internasional.

Audit Strategis: Cicilan Whoosh vs Realita

Data AngkaVonis Ambara
Setoran APBN Rp1,2 TAngka “kecil” buat negara, tapi bikin sesak napas buat kita yang bayar pajak pakai keringat sendiri.
Tenor Puluhan TahunUtang yang setia banget. Kita sudah pensiun, mungkin cicilannya masih lanjut “Whoosh” terus.
Efek DominoSubsidi di sektor lain harus “diet ketat” demi si kereta ganteng tetap bisa jalan.

Gimana? Masih mau pamer naik Whoosh di medsos atau malah mau nangis di pojokan sambil ngitungin potongan pajak di struk belanja? Tenang, kalian nggak sendirian. Kita semua lagi ada di gerbong yang sama: gerbong pembayar cicilan massal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *