AMBARA

Jokowi dan UU KPK Lama: Definisi ‘Mantan yang Tiba-tiba Ngajak Balikan’ Setelah Bikin Patah Hati

Mantan Presiden RI ke-7 Jokowi (istimewa)

​Dalam dunia asmara, nggak ada yang lebih menyebalkan daripada mantan yang dulu mutusin kita secara sepihak, eh sekarang tiba-tiba kirim pesan: “Aku setuju kalau kita balik kayak dulu lagi.” Nah, kira-kira begitulah perasaan para aktivis antikorupsi saat mendengar pernyataan terbaru Presiden Ketujuh kita, Pak Joko Widodo (Jokowi).

​Pak Jokowi baru-baru ini mengaku setuju kalau UU KPK dikembalikan ke versi lama. Iya, versi yang dulu beliau “biarkan” direvisi tahun 2019 sampai bikin mahasiswa turun ke jalan.

Jurusan Amnesia atau Strategi ‘Cuci Tangan’?

Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, langsung pasang badan. Beliau nggak habis pikir sama logika Pak Jokowi. Katanya dulu revisi UU KPK itu inisiatif DPR dan beliau nggak tanda tangan. Tapi ya itu, kata Boyamin, itu cuma cara “membodohi kita semua”.

​Logikanya begini, Lur: kalau Pak Jokowi memang nggak setuju, kenapa lembaga di bawahnya seperti Menpan-RB dan BKN kompak banget bikin Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)? Itu lho, tes yang berhasil menyingkirkan orang-orang “galak” di KPK kayak Novel Baswedan dkk. Pak Boyamin yakin banget, nggak mungkin Firli Bahuri cs berani eksekusi kalau nggak ada “restu” atau setidaknya “pembiaran” dari Istana saat itu.

Data yang Nggak Bisa Bohong

Efek dari UU KPK hasil revisi itu bukan cuma bikin pegawai hebat tersingkir, tapi juga bikin Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia terjun bebas. Jadi, kalau sekarang Pak Jokowi bilang setuju dikembalikan ke UU lama, Pak Boyamin cuma mau nanya satu hal: “Ngapain dulu dirubah, Pak?”

​Saran dari MAKI sih simpel: kalau Pak Jokowi memang tulus mau memperbaiki keadaan, coba deh bisikin ke Pak Prabowo supaya segera terbitkan Perppu. Jangan cuma kasih pernyataan yang bikin kita semua garuk-garuk kepala karena bingung sama inkonsistensi ini.

Audit Strategis: Fakta vs Gimik UU KPK

Poin KejadianVonis AMBARA
Revisi UU KPK 2019The Heartbreaker. Awal mula patah hatinya pemberantasan korupsi di Indonesia. Disetujui lewat “pembiaran”.
Drama TWKAlat “bersih-bersih” paling efektif buat ngusir orang jujur. Dan anehnya, dulu semua instansi pemerintah setuju-setuju saja.
Pernyataan “Setuju” SekarangGimik Level Dewa. Susah dipercaya kalau cuma omongan tanpa ada langkah konkret lewat Perppu dari penerusnya.

Gimana menurut kalian? Apakah ini tulus dari hati Pak Jokowi atau cuma biar kelihatan tetap “pro-rakyat” di masa pensiun? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, tapi jangan pakai TWK ya, takutnya kalian malah tersingkir dari grup ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *