Bicara soal tahun pertama kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) di NTB, rasanya kayak melihat orang lagi renovasi rumah tua. Berisik, banyak debu, tapi katanya sih demi fondasi yang lebih kuat.
Kepemimpinan baru ini menandai pergeseran arah ekonomi daerah: dari yang tadinya hobi “koreksi” (baca: melambat atau turun), sekarang pelan-pelan mau diajak lari ke fase transformasi. Tapi, apakah angkanya sudah bikin senyum atau malah bikin kita makin sering ngelus dada sambil liat saldo ATM?
Bukan Cuma Soal Tambang, Lur!
Selama ini, kalau ekonomi NTB naik, biasanya karena harga emas atau tembaga lagi bagus. Tapi kalau tambang lagi lesu, ekonomi kita ikut lemas kayak belum sarapan. Iqbal-Dinda tampaknya tahu kalau ketergantungan itu nggak sehat. Fondasi transformasi yang dimaksud di sini adalah mulai melirik sektor non-tambang.
Pertanian, pariwisata (apalagi ada Mandalika), dan UMKM mulai dipaksa “naik kelas”. Tapi ya itu, namanya juga tahun pertama, hasilnya belum seinstan beli mie goreng di warung sebelah. Kita masih di fase transisi yang butuh napas panjang.
Tantangan Realita di Lapangan
Fase koreksi itu memang menyakitkan. Ada harga barang yang naik, ada daya beli yang mungkin belum pulih-pulih amat. Transformasi ekonomi itu keren di atas kertas, tapi buat warga di pelosok Lombok atau Sumbawa, yang penting itu lapangan kerja ada dan harga cabai nggak bikin nangis.
Gubernur Iqbal yang punya background diplomat pasti jago kalau urusan narik investasi (ingat kan, kita lagi nunggu ART 19% sama Amerika?). Tapi pertanyaannya: investasi itu bakal mampir ke kantong warga lokal atau cuma lewat di atas aspal mulus saja?
Kesimpulannya, Lur: Iqbal-Dinda lagi berusaha bikin fondasi yang kuat. Kita kasih waktu dulu, tapi mata tetap melotot liat data. Jangan sampai fondasinya sudah jadi, eh kita malah nggak mampu beli semen buat bangun dindingnya.
BACA JUGA ANALISIS TERKAIT:
Radikalisme Fiskal di Lombok Barat



