GET DATA STATISTIK

The 3% Paradox: Akrobat Purbaya di Ujung Tanduk Fiskal

Mesin Ganda Jakarta: Ambisi 5% dan Realitas Manufaktur - Ilustrasi Kantor Kemenkeu RI (Kemenkeu)

JAKARTA — Di dunia diplomasi fiskal, angka 3% adalah “ayat suci” yang tidak boleh dilanggar jika tidak ingin dianggap murtad oleh pasar global. Namun, bagi Indonesia di tahun 2026, angka ini tampak lebih seperti saran opsional daripada kewajiban hukum.

​International Monetary Fund (IMF) baru saja merilis laporan Golden Vision 2045, yang isinya kurang lebih seperti teguran halus mertua kepada menantu yang hobi belanja barang mewah pakai paylater: “Hati-hati, defisitmu sudah 2,9%, lho.” Sementara itu, CitiGroup malah lebih jujur (dan menyakitkan) dengan meramal defisit kita bakal jebol ke angka 3,5%.

Antara Piring Makan dan Desa yang Hilang

​Masalahnya sederhana: ambisi kita selangit, tapi dompet kita sedang diet ketat. Pemerintah sedang semangat-semangatnya membagikan Makan Bergizi Gratis (MBG)—sebuah program yang secara logistik sangat heroik namun secara fiskal sangat traumatis. Belum selesai urusan perut, alam sedang tidak bersahabat. Rekonstruksi Sumatera pascabanjir bandang menuntut dana darurat yang tidak sedikit.

​Bayangkan Anda sedang mencicil mobil mewah (MBG), tiba-tiba atap rumah ambruk (Sumatera), sementara gaji bulanan (penerimaan negara) malah belum cair-cair amat. Inilah definisi “ruang fiskal yang sangat sempit.”

Kalkulator Purbaya: Proyeksi Beban Fiskal 2026

Komponen BelanjaEstimasi AnggaranDampak Fiskal
Makan Bergizi Gratis (MBG)~Rp400 – 450 TBelanja rutin masif yang sulit dipangkas (*populis*). Menjadi jangkar utama defisit.
Rekonstruksi Sumatera~Rp85 – 120 TBelanja darurat tak terencana akibat bencana alam berskala besar.
Total Beban Baru~Rp535 – 570 TSetara dengan ~20% dari total belanja negara. Berisiko menjebol batas defisit 3% PDB.

Optimisme Purbaya: Percaya Diri atau Denial?

​Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dengan gaya khasnya yang menyerupai pelatih bola yang timnya sedang tertinggal 0-3, tetap optimis. “Mereka tahu saya bisa kendalikan,” katanya. Secara The Economist, ini disebut Confidence Management. Secara Mojok, ini adalah gaya “Sante, lur, kabeh iso diatur,” padahal di bawah meja, kalkulator sudah mulai berasap.

Strategic Audit: The 3% Tightrope

The ContentionGetNews Verdict (Verified)
IMF Prediction (2.9%)Lampu Kuning. Angka ini adalah batas psikologis. Lebih dari ini, investor mulai mencari pintu keluar atau meminta bunga (yield) utang yang lebih tinggi.
CitiGroup Prediction (3.5%)Krisis Konstitusi. UU Keuangan Negara mematok batas 3%. Jika angka 3,5% ini jadi nyata tanpa revisi UU, Menkeu bukan cuma berurusan dengan pasar, tapi juga dengan ancaman pemakzulan.
The MBG EffectHigh Maintenance. Program populis adalah candu fiskal. Begitu dimulai, sulit dihentikan, tapi ongkosnya menggerogoti anggaran esensial lainnya seperti infrastruktur dan riset.

Bottom Line: Indonesia sedang mencoba melakukan hal mustahil: menjalankan gaya hidup mewah (belanja ekspansif) dengan pendapatan pas-pasan (penerimaan seret), sambil berharap penagih utang internasional tidak melihat ke bawah piring. Jika Purbaya berhasil menjaga angka di bawah 3%, dia adalah pesulap. Jika tidak, dia hanya seorang menteri dengan rencana yang terlalu besar.

Further reading: Mendagri Ungkap 29 Desa di Sumatera Hilang Akibat Banjir dan Longsor

Polling: Akrobat Fiskal 2026

🔴 TIM OPTIMIS: “Purbaya jago, defisit pasti aman di bawah 3%.”
🔵 TIM WASPADA: “Ngeri-ngeri sedap, IMF dan CitiGroup lebih masuk akal.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *