DONALD Trump memang bukan tipe pemain yang mau menerima kekalahan dengan anggun. Hanya beberapa jam setelah Mahkamah Agung (MA) AS mematikan “pedang” tarifnya, sang presiden membalas dengan palu godam: Tarif Global Seragam sebesar 10 persen.
Bagi Jakarta, ini adalah kabar buruk yang levelnya “bencana.” Bayangkan, kita sudah “rela” masuk ke Board of Peace—sebuah langkah yang membuat kita harus menelan ludah di hadapan sekutu tradisional di PBB—demi mendapatkan keringanan tarif 0% untuk 1.819 produk. Sekarang, dengan tarif seragam 10% ini, status “anak emas” yang diperjuangkan di Washington terancam menguap begitu saja.
Analisis Get Insight: Diplomasi di Atas Pasir Hisap
Secara makro, Indonesia sedang terjebak dalam “Executive Discretion Trap”. Kita melakukan negosiasi dengan seorang Presiden yang wewenangnya sedang dipangkas oleh Yudikatifnya sendiri. Kesepakatan ART (Agreement on Reciprocal Tariffs) yang kita banggakan kemarin berdiri di atas landasan hukum yang kini dinyatakan ilegal.
Jika Trump memberlakukan tarif 10% secara seragam untuk mematuhi “keadilan” versi MA AS, maka keunggulan kompetitif 1.819 produk RI yang bebas tarif otomatis sirna. Indonesia kini berada di posisi yang sangat sulit: kita sudah terlanjur berkomitmen di Board of Peace dan perpanjangan Freeport, namun imbalan ekonomi yang dijanjikan justru “dirampok” oleh dinamika politik domestik Amerika.
Vonis Ambara: Sante, Lur!
Nasib kita emang sering mirip kayak orang yang sudah bayar down payment buat beli rumah, eh besoknya developer-nya digugat cerai terus asetnya disita pengadilan. Kita sudah “rela” pasang badan di Board of Peace (yang jujur saja, bikin beberapa tetangga kita ngelirik sinis), eh sekarang Trump malah main sapu rata tarif 10%.
Secara Ambara, ini pelajaran berharga: jangan pernah percaya seratus persen sama janji politisi yang lagi berantem sama hakimnya sendiri. Sekarang kita cuma bisa berharap diplomasi “Sante, Lur” Pak Prabowo bisa bikin pengecualian lagi di dalam tarif 10% itu. Kalau nggak? Ya, kita cuma dapet gelar “Pahlawan Perdamaian” tapi tetep harus bayar upeti 10% ke paman Sam. Sante! Tapi ya agak nyesek dikit.
Berita yang WOW: Lawatan ke Washington, Presiden Prabowo Kantongi Kesepakatan Investasi US$ 38,4 Miliar
Baca juga ilusi lainnya: The 2025 Labor Paradox: Satu Tahun Iqbal–Dinda dan Ilusi Angka




