LOMBOK TIMUR — Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, menginstruksikan langkah mitigasi komprehensif untuk mengatasi banjir tahunan di Desa Obel-Obel, Kabupaten Lombok Timur. Instruksi ini disampaikan saat meninjau langsung lokasi terdampak pada Jumat, 20 Februari 2026.
Dalam peninjauan tersebut, Iqbal mengidentifikasi sedimentasi lumpur dan batuan di alur sungai sebagai pemicu utama luapan air. Pendangkalan yang parah menyebabkan elevasi dasar sungai hampir sejajar dengan permukiman warga.
”Kita tidak bisa hanya menangani saat bencana terjadi. Harus ada langkah mitigasi komprehensif, mulai dari normalisasi sungai hingga penataan kawasan hulu,” tegas Iqbal.
Normalisasi dan Penguatan Tanggul
Sebagai solusi jangka pendek, Pemerintah Provinsi NTB menilai perlu segera dilakukan pengerukan sedimen. Material hasil pengerukan tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk memperkuat dan meninggikan tanggul di sepanjang aliran sungai guna menahan debit air saat hujan deras.
Selain di Desa Obel-Obel, penanganan darurat juga dilakukan di Desa Madayin. Merespons laporan warga terkait sumbatan pohon besar di jembatan, BPBD NTB langsung menerjunkan tim untuk membersihkan material kayu menggunakan gergaji mesin guna melancarkan kembali aliran sungai.
Pemulihan Ekonomi dan Logistik
Tak hanya infrastruktur, pemulihan ekonomi masyarakat menjadi perhatian. Gubernur Iqbal menyalurkan bantuan modal dan perbaikan fasilitas bagi pengrajin tempe di Dusun Batumpak yang usahanya lumpuh diterjang banjir. Bantuan tersebut mencakup perbaikan tempat pengolahan hingga pembelian bahan baku kedelai.
Pemprov NTB melalui BPBD, Baznas, dan Dinas Sosial juga menyalurkan paket sembako serta bantuan logistik darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar warga dan anak-anak di lokasi bencana.
Iqbal memerintahkan BPBD NTB untuk memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur guna merumuskan solusi permanen. “Saya minta OPD terkait berkoordinasi erat agar pencegahan ke depan lebih optimal dan berkelanjutan,” pungkasnya.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
The Meritocratic Shuffle: Menakar Logika Perampingan Birokrasi di NTB



