MATARAM — Dalam diskursus ekonomi rumah tangga di Nusa Tenggara Barat, cabai rawit merah bukan sekadar komoditas; ia adalah indikator tensi sosial. Sepekan terakhir, narasi mengenai harga cabai yang menembus angka psikologis Rp200.000 per kilogram telah menciptakan riak kegelisahan publik. Namun, sebuah audit data lapangan mengungkapkan realitas yang lebih bernuansa daripada sekadar judul berita yang bombastis.
I. Anomali Eceran dan Informasi Asimetris
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, melakukan klarifikasi penting mengenai disparitas harga yang mencolok. Angka “dua ratus ribu” yang menghantui percakapan warga rupanya berakar dari pasar eceran paling ujung: pedagang keliling.
Secara matematis, ketika pedagang keliling menjual cabai seharga Rp50.000 per seperempat kilogram, kalkulasi linear memang merujuk pada angka Rp200.000. Namun, menjadikannya sebagai harga rata-rata pasar adalah sebuah kesalahan generalisasi. Data resmi SP2KP menunjukkan bahwa di pusat distribusi seperti Pasar Mandalika, harga justru bersifat volatil—menyentuh Rp170.000 sebelum terkoreksi kembali ke level Rp120.000 pada Ahad (22/2/2026).
II. Musiman yang Terprediksi: Faktor Ramadhan
Kenaikan ini bukanlah fenomena hitam-putih. Ada perpaduan antara:
- Demand Shock: Lonjakan permintaan menjelang Ramadhan yang selalu melampaui kurva penawaran reguler.
- Supply Instability: Hasil panen yang terfragmentasi akibat faktor cuaca, menciptakan hambatan pada supply chain.
- Speculative Behavior: Kecenderungan pelaku usaha menengah untuk menguji daya tahan kantong konsumen (price skimming) di tengah momentum hari besar.
Vonis Tim Get Insight: Sante, Lur!
Klarifikasi Pemprov NTB adalah langkah krusial untuk mencegah “Panic Buying” yang justru akan semakin melambungkan harga. Namun, pemerintah harus waspada terhadap “pedagang keliling” yang menjadi wajah harga bagi ibu rumah tangga di perumahan. Jika harga di level end-user tetap dibiarkan mencekik, narasi “stabilitas” di pasar induk tidak akan bermakna banyak bagi daya beli rakyat. Sante, lur! Pedasnya cabai biarlah terasa di lidah saat berbuka nanti, jangan sampai menusuk dompet terlalu dalam sebelum Ramadhan dimulai.




