SELAMAT datang di musim di mana harga cabai rawit merah lebih menakutkan daripada draf revisi UU apa pun di negeri ini. Di Nusa Tenggara Barat, tensi darah ibu-ibu baru saja diuji oleh angka Rp200.000 per kilogram. Angka yang membuat kita bertanya-tanya: ini kita sedang beli bumbu dapur atau sedang mencicil mahar emas putih?
I. Ilmu Matematika Pedagang Keliling
Juru Bicara Pemprov NTB, Pak Ahsanul Khalik, terpaksa turun gunung untuk menenangkan suasana. Rupanya, angka Rp200 ribu itu adalah hasil dari sebuah “Kreativitas Matematika” pedagang keliling di perumahan.
Begini logikanya: Pedagang beli di pasar induk seharga Rp120 ribu. Sampai di perumahan, mereka jual eceran Rp50 ribu per seperempat kilo. Secara teknis, per kilonya jadi Rp200 ribu. Jenius? Tentu saja. Ini adalah strategi upselling paling jujur sekaligus paling menyakitkan yang pernah ada. Pedagang keliling kita rupanya sedang menerapkan biaya delivery dan hospitality (alias jasa antar sampai depan pintu sambil gosip dikit) yang harganya setara dengan margin keuntungan startup teknologi di Silicon Valley.
II. Ritual Tahunan “Panic Spicy”
Kenaikan harga jelang dan selama Ramadhan ini sebenarnya sudah sediakala seperti jadwal rilis film Fast & Furious: terprediksi, membosankan, tapi tetap bikin heboh. Faktor cuaca, panen yang malu-malu, dan permintaan yang mendadak meledak karena semua orang ingin bikin sambal goreng saat sahur, adalah kombinasi maut.
Pemprov NTB sudah bersabda: “Di pasar induk cuma Rp100 ribuan, kok!” Masalahnya, Pak Jubir, rakyat jelata seperti kami ini seringkali lebih punya nyali buat nunggu tukang sayur lewat daripada harus berjibaku di Pasar Mandalika jam 4 pagi. Di situlah letak Asimetri Informasi-nya: Pemerintah bicara data SP2KP, rakyat bicara sisa kembalian di tangan tukang sayur.
Vonis Tim Ambara: Sante, Lur!
Klarifikasi pemerintah itu penting supaya kita nggak makin panik dan malah borong cabai buat investasi masa depan. Tapi ya mbok tolong, para “Pahlawan Keliling” di perumahan itu diedukasi dikit. Kalau harga seperempat kilonya disamakan dengan harga cicilan motor, ya jelas rakyat menjerit. Sante, lur! Pedasnya harga cabai ini anggap saja latihan kesabaran selama bulan suci. Toh, kalau harga cabai naik terus, kita bisa beralih ke sambal tomat yang lebih banyak tomatnya daripada cabainya. Atau sekalian saja, nggak usah pakai sambal, biar lidah kita belajar arti kesederhanaan. Sante!
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Geger Aula Tambora: Saat 392 Pejabat NTB Harus “Log Out” Berjamaah



