MEMBAYANGKAN APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) itu sebenarnya mirip seperti membayangkan dompet bapak rumah tangga yang pengeluarannya jauh lebih kencang daripada gajinya. Bedanya, kalau bapak rumah tangga pusing cicilan motor, negara pusing cicilan infrastruktur dan subsidi energi.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Keuangan, “dompet” kita tahun ini sedang berusaha tampil gagah di tengah badai ekonomi global yang bikin pusing tujuh keliling. Pendapatan negara coba digenjot, tapi belanja negara—seperti biasa—selalu menemukan jalan untuk jadi lebih besar.
Defisit: Seni Berutang yang Sopan
Dalam bahasa The Economist, Indonesia sedang melakukan “fiskal akrobatik”. Kita menyebutnya defisit yang terkendali. Artinya? Kita belanja lebih banyak dari yang kita punya, lalu sisanya ditutup pakai utang (SBN). Selama rasionya masih di bawah 3%, para ekonom di Jakarta bakal tersenyum sambil bilang, “Tenang, masih aman.”
Tapi bagi orang awam, defisit ini adalah pengingat bahwa kita ini hobi gaya hidup elit, tapi ekonomi masih sulit. Kita ingin punya kereta cepat, rumah sakit mewah di tiap tikungan, dan makan siang gratis, tapi pas disuruh bayar pajak, kita tiba-tiba amnesia atau sibuk cari celah biar nggak bayar. Walhasil, SBN (Surat Berharga Negara) jadi pahlawan kesiangan yang menjaga agar dapur negara nggak berhenti mengepul.
Audit Strategis GetNews: Realita Isi Dompet Rakyat
Mari kita bedah apa artinya angka-angka di gambar tersebut buat kamu yang lebih peduli harga beras daripada kurs dollar:
Vonis Redaksi: Jangan Senang Dulu
Secara teknis, APBN kita memang terlihat “terkendali”. Tapi mari jujur: terkendali di atas kertas belum tentu terasa di dompet kita masing-masing. Selama kebocoran anggaran masih dianggap “seni administrasi” dan korupsi masih jadi hobi sampingan oknum, maka sebesar apa pun pendapatan negara, kita akan tetap merasa kekurangan.
Negara boleh saja bangga dengan defisit yang rendah, tapi rakyat lebih butuh harga minyak goreng yang rendah dan lapangan kerja yang nggak serendah harapan. APBN adalah janji, dan sejauh ini, janji itu masih lebih banyak dibayar pakai utang daripada pakai kesejahteraan nyata.
BACA JUGA ANALISIS TERKAIT:
AKROBAT UTANG: Menjinakkan Defisit di Tengah Badai



