PUBLIK INDONESIA belakangan ini sedang dalam mode “Apresiasi Tapi Curiga” setelah KPK akhirnya resmi memasukkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (YCQ) ke dalam “kos-kosan” mewah bernama Rutan Gedung Merah Putih. Sebagian rakyat mungkin bersorak, “Akhirnya, menteri kena juga!”, tapi sebagian lagi yang hobi baca plot twist justru mengernyitkan dahi. Pertanyaannya satu dan sangat masuk akal: “Masa cuma Yaqut sih yang kena? Padahal kan di pusaran korupsi sebasah kuota haji, pemainnya biasanya sudah kayak rombongan bus pariwisata.”
Pertanyaan wajar ini bak duri dalam daging bagi KPK. Mengapa? Karena sebelum penahanan ini, lembaga antirasuah sendiri yang sempat membocorkan nama-nama lain yang diduga ikut “mencicipi” kue fee percepatan haji itu. Tapi faktanya, sekarang baru Yaqut yang disuruh istirahat di balik jeruji. Ini memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat: apakah Yaqut ini adalah pemeran utama yang bakal dikorbankan sendirian, ataukah tokoh-tokoh lain masih sibuk cari “tiket selamat” di belakang layar? Di negeri ini, korupsi berjamaah yang berakhir dengan hukuman tunggal itu rasanya sejanggal makan nasi padang tapi nggak pakai kuah gulai.
“Menahan satu menteri dalam kasus korupsi sistemik itu ibarat memetik satu buah busuk di pohon yang akarnya sudah kena ulat. Kita butuh KPK yang mau menggali sampai ke akarnya, bukan cuma yang jago motong ranting biar kelihatan kerja.”— AMBARA SATIRE INDEX
Menilik laporan Antara, publik diingatkan kembali bahwa korupsi kuota haji ini bukan sekadar urusan satu meja menteri. Ada aliran dana, ada perizinan, ada pengaturan jemaah khusus, hingga isu “lobi-lobi” di parlemen. Kalau urusannya serumit itu, logikanya butuh “orkestrasi” dari banyak pihak. Jadi, kalau KPK cuma menahan satu orang, wajar saja kalau rakyat merasa seperti sedang menonton film detektif yang berhenti di tengah jalan saat penjahat sebenarnya baru saja mau muncul. Rakyat butuh jawaban: mana pemain lainnya? Jangan sampai “jalur langit” yang dikorupsi ini cuma menyisakan satu orang yang menanggung dosa dunia.
Kita semua menunggu keberanian KPK untuk terus menarik benang merahnya. Menahan menteri itu prestasi, tapi membiarkan aktor intelektual atau kaki tangannya tetap bebas adalah sebuah ironi. Jangan sampai publik menyimpulkan bahwa penahanan ini hanyalah sebuah “kurban perasaan” demi meredam kemarahan jemaah yang antreannya disalip pakai dollar. Ingat, dalam korupsi skala besar, pelakunya jarang sekali bekerja secara solo career; mereka lebih suka format boyband—kompak saat terima uang, tapi pura-pura nggak kenal saat masuk sidang.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
RSUD NTB dan Koleksi ‘ASN Siluman’: Ketika Data Lebih Horor daripada Film Pengabdi Setan



