AMBARA

Prabowo dan Jurus ‘Exit’ BoP: Ketika Perang Timur Tengah Jadi Alasan Buat Menepi

​PRESIDEN Prabowo Subianto baru saja melempar wacana yang bikin para ahli ekonomi makro mendadak butuh kopi ekstra: Indonesia mungkin perlu keluar dari kerangka Balance of Payments (BoP) internasional tertentu atau setidaknya melonggarkan ketergantungan padanya. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena duel maut Israel-AS versus Iran yang makin hari makin nggak masuk akal. Bagi Prabowo, perang ini bukan cuma soal rudal dan tank, tapi soal indikator kuat bahwa stabilitas finansial global sedang di ambang kehancuran. Kalau dunia lagi “kebakaran”, ngapain kita tetap terikat sama aturan main yang mungkin justru bakal bikin kita ikut hangus?

​Logika Prabowo sebenarnya adalah logika “Sedia Payung Sebelum Hujan Meteor”. Beliau melihat bahwa keterikatan pada neraca pembayaran global yang dikontrol Barat hanya akan membuat rupiah dan ekonomi kita jadi sandera setiap kali Washington atau Teheran saling gertak. Dengan “keluar” atau melakukan penyesuaian besar-besaran pada indikator BoP, Indonesia ingin punya ruang gerak yang lebih luas untuk mengelola devisa dan impor-ekspor tanpa harus didikte oleh volatilitas pasar global yang sedang “mabuk” perang. Ini adalah langkah berani, atau kalau kata oposisi, langkah yang “nekat” bin berisiko tinggi.

“Menjadikan perang Iran-Israel sebagai alasan keluar dari BoP itu cerdik. Masalahnya, apakah kita keluar karena sudah kuat, atau keluar karena takut nggak bisa bayar iuran stabilitas?”— AMBARA SATIRE INDEX

​Efeknya tentu saja sistemik. Kalau Indonesia benar-benar bergeser dari standar BoP konvensional karena faktor perang ini, itu artinya kita sedang memproklamasikan “Kedaulatan Ekonomi Darurat”. Kita nggak mau lagi didikte soal seberapa besar cadangan devisa yang harus kita jaga demi memuaskan selera investor asing yang penakut. Prabowo ingin Indonesia punya “benteng” sendiri. Masalahnya, apakah benteng itu bakal cukup kuat menahan guncangan kalau pasar global mendadak mengucilkan kita karena dianggap nggak mau ikut aturan main? Itu adalah pertaruhan yang lebih besar daripada tebak-tebakan skor bola.

​Pada akhirnya, perang di Timur Tengah telah menjadi katalisator bagi Prabowo untuk mempercepat agenda “Indonesia Mandiri”. Beliau seolah ingin bilang bahwa sistem keuangan dunia yang sekarang itu sudah nggak relevan buat negara berkembang yang mau selamat dari kiamat ekonomi. Kita tunggu saja, apakah jurus exit dari BoP ini bakal bikin Indonesia jadi “Macan Asia” yang mandiri, atau justru jadi “Kucing yang Tersesat” di tengah badai krisis global. Satu yang pasti, di tangan Prabowo, geopolitik dan ekonomi itu satu paket: kalau dunianya nggak logis, ya kita harus cari logika sendiri.

GETNEWS STRATEGIC AUDIT: The BoP Departure Strategy 2026
Indikator UtamaAnalisis PrabowoLensa Strategis (Mojok Style)
Konflik RegionalPerang Israel-AS vs Iran hancurkan stabilitas makro.The Global Trigger. Alasan sempurna buat bilang ‘Selamat Tinggal’ ke sistem lama yang rapuh.
Kedaulatan DevisaKebutuhan mengelola cadangan tanpa tekanan eksternal.The Wallet Control. Dompet kita, ya terserah kita mau isinya apa dan buat apa.
Risiko BoPDefisit transaksi berjalan yang terancam harga minyak.Survival Instinct. Mending cabut dari aturan BoP daripada mati konyol gara-gara kurs yang nggak karuan.
Analysis: GetNews Intelligence Unit | Source: Kumparan/BPMI Setpres[Mar 2026]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *