IDUL FITRI 1447 H kali ini tidak hanya diisi dengan urusan opor ayam dan bagi-bagi amplop di dalam negeri. Presiden Prabowo Subianto tampaknya lebih memilih menghabiskan waktu dengan “teleponan” lintas benua. Bukan sekadar tanya kabar, tapi sapaan hangat ini mendarat di meja para pemain kunci dunia Islam.
Dari ruang kerjanya, Prabowo menghubungi empat raksasa: Recep Tayyip Erdoğan (Turki), Shehbaz Sharif (Pakistan), Raja Abdullah II (Yordania), hingga sang “Pangeran Visi” Mohammed bin Salman (Arab Saudi). Sebuah daftar kontak yang kalau grup WhatsApp-nya ada, mungkin isinya adalah pembahasan nasib ekonomi dunia dan peta geopolitik yang sedang tidak baik-baik saja.
| Kategori Audit | Analisis Investigatif | Status Performa |
|---|---|---|
| Mitra Strategis | Blok Turki, Pakistan, Yordania, Saudi | HIGH RELEVANCE |
| Target Diplomasi | Solidaritas Global & Penguatan Bilateral | STRENGTHENING |
| Konteks Waktu | Momentum Lebaran (Soft Power Diplomacy) | TACTICAL MOVE |
Sumber: Analisis GetNews & Data Sekretariat Kabinet 2026.
Lebaran di Tengah Pusaran Geopolitik
Gaya diplomasi Prabowo memang terasa sangat “Mojok” namun bertenaga. Di saat rakyat sibuk menanyakan “kapan nikah” ke saudara jauh, Presiden justru sibuk memastikan bahwa Indonesia tetap punya kursi VVIP di antara negara-negara Muslim.
Bercengkerama dengan Erdoğan dan MBS dalam satu waktu itu bukan perkara gampang. Ini seperti mencoba akrab dengan semua faksi di grup keluarga yang isinya orang-orang keras kepala. Namun, Prabowo melakukannya dengan santai. Pesannya jelas: Indonesia bukan cuma penonton di kancah global, melainkan jembatan (atau mungkin wasit?) bagi kepentingan dunia Islam.
Bukan Sekadar Maaf-maafan
Jangan tertipu dengan diksi “silaturahmi”. Dalam kamus hubungan internasional, telepon saat hari raya adalah taktik soft power yang sangat efisien. Ngobrol soal hilal bisa berujung pada investasi alutsista atau kesepakatan kuota haji yang lebih longgar.
Dengan Pakistan, ada urusan pertahanan. Dengan Saudi dan Turki, ada urusan visi ekonomi. Dan dengan Yordania, ada urusan kemanusiaan di Palestina yang tak kunjung usai. Jadi, sementara kita sibuk menghitung kalori dari santan, Pak Presiden sedang menghitung daya tawar Indonesia di mata dunia.
Selamat Lebaran, Pak Presiden. Semoga pulsanya tidak habis di tengah jalan, karena menjaga solidaritas global ternyata jauh lebih rumit daripada menjaga silaturahmi dengan mantan.
Verified Source: BPMI SETPRES




