STATISTIK

Rapor Maret NTB: Cabai Makin Pedas, Dompet Petani Makin Tipis

MATARAM — Kepala BPS NTB, Dr. Wahyudin, baru saja merilis angka-angka yang membuat kita sadar bahwa Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar, tapi juga menahan kaget saat melihat struk belanja. Ketika geopolitik global sedang panas-panasnya karena urusan Hormuz, di pasar-pasar NTB, “perang” yang sebenarnya terjadi di lapak bumbu dapur.

1. Inflasi: Ketika ‘Gaya’ Lebih Mahal dari ‘Makan’

​Inflasi Maret 2026 tercatat 4,09% (y-on-y). Kota Bima menjadi juara “paling mahal” dengan angka 5,09%.

​Yang unik, kalau Anda merasa biaya perawatan diri (skincare, potong rambut, dkk) makin nggak masuk akal, Anda benar. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya melesat gila-gilaan sebesar 21,60%. Sepertinya, di NTB, tampil glowing saat Lebaran adalah investasi yang lebih berat daripada beli emas.

2. Nasib Petani: Itikad Naik, Beban Lebih Naik

​Nilai Tukar Petani (NTP) turun 1,01% ke angka 129,93. Ibarat main gim, skill petani untuk menghasilkan (It) naik tipis 0,08%, tapi damage pengeluaran (Ib) karena harga barang konsumsi naik 1,10%.

  • Kabar Baik: Petani Hortikultura masih “Sultan” dengan NTP 251,97.
  • Kabar Buruk: Petani Padi dan Jagung mulai gigit jari karena masuk masa panen; stok melimpah, harga turun. Hukum pasar memang sekejam itu, kawan.

3. Pariwisata: Sepi di Bulan Suci

​Okupansi hotel (TPK) bintang cuma 31,78%, turun dari Januari. Masuknya bulan Ramadhan membuat orang lebih memilih rebahan di rumah daripada staycation. Jumlah wisman di BIZAM juga drop 33,19%. Sepertinya turis asing pun tahu kalau cari makan siang di Lombok saat Ramadhan butuh perjuangan ekstra.

Audit Strategis: Dashboard BPS NTB

IndikatorData RielVonis GetNews
Inflasi Provinsi4,09% (y-on-y)WARNING: RED ZONE
NTP (Daya Beli Petani)129,93 (Turun 1,01%)TERMS OF TRADE WEAKEN
Ekspor TembagaUS$ 37,63 Juta (59,08%)SMELTER REVENUE CORE
Impor Mesin72,43% dari total imporCAPEX INTENSIVE

Vonis Data: Smelter Menyelamatkan Wajah Ekspor

​Meski pariwisata sedang lesu dan petani sedang mengeluh, wajah ekspor NTB diselamatkan oleh Tembaga dan Perhiasan/Permata hasil industri smelter yang naik gila-gilaan (1.155,29% y-on-y). Tanpa tembaga, neraca dagang kita mungkin sudah wassalam.

Intinya: NTB sedang bertransformasi jadi provinsi industri logam, tapi urusan perut masyarakatnya masih sangat sensitif sama harga cabai rawit dan tarif angkutan mudik. Pemerintah daerah harus cepat-cepat mengurus Perda PDRD biar potensi cuan dari tambang rakyat (IPR) nggak cuma jadi tontonan, tapi jadi tambahan saldo buat ngerem inflasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *