Jakarta, getnews – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memfasilitasi dialog nasional bertajuk “Mendengar dari Balik Lensa” menanggapi maraknya konflik dan perdebatan seputar etika fotografi di ruang publik. Inisiatif ini bertujuan menjembatani kepentingan fotografer, komunitas, dan regulator guna menciptakan ekosistem fotografi yang sehat, aman, dan produktif bagi seluruh pemangku kepentingan.
Melalui dua sesi pembahasan Etika Lapangan dan Peran Komunitas Fotografi serta Tata Kelola Digital dan Etika Data kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka bagi komunitas fotografer, regulator, dan pemangku kepentingan untuk mencari solusi bersama.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf, Agustini Rahayu, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat ekosistem fotografi sebagai bagian penting dari subsektor ekonomi kreatif nasional.
“Kami ingin mendengar langsung dari para pelaku fotografi tentang dinamika dan tantangan di lapangan. Salah satu tugas kami di Kementerian Ekraf adalah membuka jalur distribusi dan komersialisasi bagi setiap subsektor agar roda ekonomi kreatif tetap bergerak,” ujar Agustini pada diskusi bertajuk “Mendengar dari Balik Lensa” di Gedung Film Pesona Indonesia, Jakarta, Jumat, 7 November 2025.
Ia menambahkan, gangguan terhadap ekosistem fotografi dapat berimbas pada rantai nilai ekonomi kreatif secara keseluruhan. Lebih lanjut, Agustini menegaskan bahwa peran pemerintah dalam konteks ini bukan semata sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator dan koordinator.
“Kasus-kasus yang muncul belakangan ini cukup mengganggu alur kerja dan interaksi di industri. Karena itu, kami hadir untuk memfasilitasi agar permasalahan ini dapat diselesaikan secara kolaboratif, bukan dengan saling menyalahkan. Pemerintah bukan regulator yang menakutkan, tapi pihak yang menjembatani kepentingan bersama. Kami ingin memastikan industri fotografi berjalan dengan baik, sehat, dan transparan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekraf, Iman Santosa, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menciptakan ekosistem fotografi yang aman dan nyaman. Ia menambahkan, hasil dari diskusi ini tidak akan berhenti pada tataran pembahasan semata.
“Kami ingin membantu teman-teman fotografer menyelesaikan persoalan yang muncul di masyarakat. Tujuannya sederhana: agar ekosistem ini bisa bekerja dengan rasa aman dan saling menghargai. Ke depan, kami akan menyusun rekomendasi bersama untuk disampaikan kepada pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan instansi lain seperti Kementerian Komunikasi dan Digital. Kita ingin menemukan solusi konkret yang menjamin keamanan dan kenyamanan bagi semua pihak,” tegasnya.
Fotografer Profesional Jerry Aurum dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme para peserta dan menekankan pentingnya ruang dialog seperti ini dalam merawat kolaborasi lintas sektor.
“Fotografi bukan hanya karya visual, tetapi cerminan cara pandang kita terhadap manusia dan ruang publik. Melalui forum ini, kita ingin mendengar langsung dari para pelaku di balik lensa. Kami menginginkan bahwa perlindungan hukum dan ruang kreativitas dapat berjalan seimbang,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Ekraf berharap lahir sinergi berkelanjutan antara pelaku industri, komunitas, dan pemerintah dalam memperkuat tata kelola fotografi nasional. Fotografi bukan hanya ekspresi visual, tetapi juga bagian dari kekuatan ekonomi kreatif Indonesia yang perlu dijaga bersama. Diskusi ini bukan lah hasil, melainkan bagian dari menemukan solusi bersama yang nantinya akan diteruskan ke berbagai pihak regulator.
Hadir berbagai stakeholder industri fotografi mulai dari asosiasi, pelaku industri, komunitas, dan pemerintah. Dari Kementerian Ekraf turut hadir Staf Khusus Menteri Bidang Manejemen Internal dan Efektifitas Organisasi Yanuar Pranuradhi sebagai salah satu perwakilan Kementerian Ekraf.
kementerian ekonomi kreatif




