DIGITAL

Kunci Agar Konten Viral dari Sohib Berkelas Surabaya

Head of Production Indonesia.go.id, Singgih Aji Abiyuga saat memberikan paparan dalam Sohib Berkelas Surabaya. (Foto InfoPublik/Wandi)

Surabaya, getnews — Head of Production Indonesia.go.id, Singgih Aji Abiyuga, menegaskan bahwa produksi konten digital tidak lagi berdiri pada estetika visual saja, melainkan pada perpaduan antara ilmu algoritma, pengelolaan emosi audiens, dan kualitas eksekusi 3 detik pertama.

Penegasan ini ia sampaikan pada Sohib Berkelas Surabaya, workshop pengenalan konten informasi publik serta pengelolaan aset konten yang digelar Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (KPM Kemkomdigi) di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025).

Dalam paparannya, Singgih menyoroti fakta bahwa lebih dari 500 juta konten muncul setiap hari, namun hanya kurang dari 2 persen yang mampu bertahan dan berkembang di platform digital.  “Sisanya berhenti sebagai dokumentasi belaka. Bukan karena jelek, tapi karena tidak mendapatkan perhatian algoritma,” ujarnya.

Menurut Singgih, pertarungan konten ada pada detik-detik pembuka. Perubahan pola konsumsi yang sangat cepat membuat audiens melakukan scrolling hanya dalam hitungan detik.  “Rumus paling awal itu sederhana: konten harus menarik dalam 3 detik pertama. Kalau tidak, algoritma tidak memberikan perhatian,” tegasnya.

Terdapat empat sinyal kunci algoritma yang menentukan apakah sebuah konten akan terus naik atau berhenti di gelombang pertama distribusi:

  1. Pattern Interaction Score
    Mengukur seberapa cepat 3 detik awal mengganggu atau menggoda penonton untuk tetap bertahan. Konten yang tidak mencuri perhatian akan langsung tersingkir.
  2. Completion Rate / Watch Time
    Mengukur apakah penonton menonton hingga akhir dan apakah mereka melakukan replay, yang dapat meningkatkan skor signifikan.
  3. Velocity
    Kecepatan komentar, like, dan share dalam 1–24 jam pertama. Konten dengan views tinggi tanpa engagement disebut “mati dini”.
  4. Reward Time
    Sinyal terkuat, yaitu ketika audiens kembali menonton konten berulang-ulang karena penasaran, terikat emosinya, atau sedang mencari detail tertentu.

“Kalau 400–500 views pertama tidak dilewati, konten sulit masuk gelombang distribusi kedua. Di situlah threshold-nya,” tambah Singgih.

Selain algoritma, Singgih menekankan bahwa konten yang efektif adalah konten yang mampu menggerakkan emosional arousal penontonnya.

Ia mencontohkan pentingnya pemilihan kata seperti menghadirimenyaksikan, atau datang yang masing-masing membawa bobot emosional berbeda.  “Virality itu produk sampingan dari emosi. Setiap kata, setiap beat, setiap frame harus dihitung. Karena itu memicu hormon dopamin dan oksitosin yang membuat orang ingin membagikan konten,” jelasnya.

Ia juga mendorong peserta agar tidak ragu menggunakan suara asli mereka.  “Karakter suara itu identitas emosional. AI voice sebagus apa pun tidak punya ikatan emosional itu. Suara teman-teman adalah aset,” katanya.

Menurut Singgih, kecilnya peluang konten bertahan sering disebabkan oleh gangguan kecil seperti audio tidak stabil, teks yang tidak tepat, atau visual yang patah. “Distraksi kecil itu membuat penonton lari. Konten bagus sekalipun bisa gagal hanya karena 1 detik gangguan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemilihan font, gaya visual, hingga ritme video dapat memengaruhi sistem kognitif penonton.

Singgih memaparkan bahwa ada beberapa “layar emosional” yang paling mudah menciptakan perhatian, dua di antaranya adalah:

Kekaguman: pemandangan indah, karya visual estetik, pengalaman yang tidak dimiliki penonton. Outrage: rasa marah atau ketidaksetujuan yang memicu diskusi dan respons cepat.  “Lihat saja berita negatif atau kasus viral, seringnya bermain di dua spektrum itu: kekaguman dan kemarahan,” kata Singgih.

Di akhir sesi, Singgih menegaskan bahwa menjadi kreator konten bukan tentang keberuntungan, tetapi konsistensi memahami pola pikir audiens dan mesin algoritma.  “Konten kreator hari ini bukan sekadar seni. Ada sains yang harus dipelajari. Kalau rumusnya diterapkan, peluang naiknya konten lebih besar,” tutupnya.

Workshop Sohib Berkelas Surabaya ini diharapkan mampu memperkuat kemampuan ASN, pengelola informasi publik, dan peserta umum dalam menciptakan konten yang efektif, etis, dan berdampak—selaras dengan upaya pemerintah membangun ekosistem digital yang sehat dan informatif.

Foto cover: Head of Production Indonesia.go.id, Singgih Aji Abiyuga saat memberikan paparan dalam Sohib Berkelas Surabaya. (Foto InfoPublik/Wandi

infopublik.id