Skip to content
getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET !NSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET !NSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
Close

Search

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

getnews.001 White logo GETNEWS.co.id

CLARITY IN EVERY INSIGHT

  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET !NSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
  • AMBARA
  • ANALISIS GETNEWS
  • INSIDE INDONESIA
  • GET !NSIGHT
  • GET SPORT
  • GET PLANET
  • GET INFO
  • GET DATA
  • GET CORNER
  • OASE
  • LITERASI ANOMALI
  • NEWS
Close

Search

GAYA HIDUP

Bencana Bukan Kebetulan: Kisah Lumba-lumba Hamil, Peradaban yang Buta, dan Kenapa Kita Harus Cepat ‘Berbaikan’ dengan Alam

By Redaksi GETNEWS.
3 Desember 2025 2 Min Read
0

Refleksi dari Perairan Syracuse: Sampai Kita Belajar Menghormati Alam, Kita Takkan Pernah Memahami Tempat Kita di Bumi Ini.

​Kita baru saja melewati serangkaian drama pahit: Lumpur cokelat menerjang pemukiman, daerah bergulat dengan krisis logistik, dan di NTB, nelayan harus menjadi peramal cuaca dadakan demi dapur tetap mengepul. Semua peristiwa hidrometeorologi ini—banjir, abrasi, longsor—seolah datang serempak, di luar musim, dan melampaui kapasitas. Bencana demi bencana ini bukan lagi sekadar headline berita; ini adalah konsekuensi logis dari sebuah hubungan yang retak. Alam dan manusia seperti sedang bermusuhan.

​Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir: Apakah Alam pernah mencoba berbicara dengan kita—sebelum ia memutuskan untuk berteriak (melalui bencana)?

​Perjumpaan di Kedalaman 15 Meter

​Pada tahun 2009, di perairan lepas pantai Syracuse yang tenang, penyelam bebas legendaris Italia, Enzo Maiorca, sedang menjalani rutinitas menyelamnya bersama putrinya, Rossana. Enzo dikenal bukan hanya karena rekornya, tetapi karena keyakinannya pada hubungan damai antara manusia dan laut.

​Saat mereka berdua hanyut dalam kedalaman laut biru, sesuatu yang tak terduga terjadi. Enzo tiba-tiba merasakan dorongan lembut di punggungnya. Ia berbalik—dan seekor lumba-lumba menatap tepat ke matanya. Gestur itu bukan main-main. Itu adalah permohonan bantuan.

​Lumba-lumba itu menyelam dengan tajam, dan Enzo mengikutinya. Sekitar 15 meter di bawah permukaan, mereka menemukan seekor lumba-lumba kedua—terjerat tanpa harapan di jaring ikan yang terbengkalai.

​Kode Terima Kasih yang Terlupakan

​Tanpa ragu, Enzo memberi isyarat kepada putrinya untuk meminta pisau. Mereka berdua dengan hati-hati melepaskan hewan itu dari ikatan tali nilon yang mematikan. Begitu lumba-lumba itu dilepaskan, ia mengeluarkan suara yang kemudian digambarkan Enzo sebagai “hampir seperti tangisan manusia.”

​Kejutan belum berakhir. Ketika lumba-lumba yang diselamatkan itu mencapai permukaan, ia sedang hamil tua. Dan beberapa saat kemudian, ia melahirkan tepat di laut lepas. Lumba-lumba jantan itu mendekati Enzo, menempelkan moncongnya dengan lembut ke pipinya — sebuah gestur rasa terima kasih yang tulus — sebelum menghilang ke laut bersama keluarga barunya.

​Puncak Pengkhianatan Peradaban Kita

​Kontrasilah kepercayaan yang ditunjukkan lumba-lumba itu dengan kondisi peradaban kita saat ini—sebuah peradaban yang seolah tuli.

  • ​Penebangan Liar dan Dana Siluman: Kita tahu bahwa bencana lumpur di seluruh Indonesia diperburuk oleh penebangan liar, pembalakan hutan, dan tambang ilegal. Kita tahu bahwa dana untuk mitigasi dan perbaikan infrastruktur seringkali tersangkut di birokrasi anggaran (seperti Dana Siluman dan polemik PUPR NTB).
  • ​Kita ingin logistik berjalan cepat saat bencana, tetapi kita adalah yang paling lambat dalam mendengarkan “bahasa sunyi” alam. Kita menanggapi bencana sebagai masalah teknis, padahal ia adalah masalah moral.

Memahami Tempat Kita di Bumi

​Merenungkan pengalaman luar biasa itu, Enzo Maiorca menyimpulkan sebuah kebijaksanaan yang abadi, dan itulah kunci introspeksi kita:

​“Sampai manusia belajar menghormati dan berbicara dengan alam, ia tak akan pernah benar-benar memahami tempatnya di Bumi ini.”

​Sudah saatnya kita menghentikan perusakan, menghentikan pembangunan yang buta, dan menghentikan korupsi yang merusak lingkungan. Mungkin, jika kita lebih sering menundukkan kepala dan mendengarkan, kita akan menyadari bahwa alam sudah berbicara kepada kita sejak lama—jauh sebelum ia harus berteriak dan menghancurkan pintu rumah kita.

​🔗 Sumber Data Tambahan:

  • ​Kisah Enzo Maiorca: https://www.scubadivingworld.com/enzo-maiorca-dolphin-story/
Distribute Strategic Insight
WHATSAPP
X-POST
FACEBOOK

Tags:

BENCANA EKOLOGI TERPARAHBencana HidrometeorologiEnzo MaiorcaLumba-Lumba
Author

Redaksi GETNEWS.

Follow Me
Other Articles
Kegiatan tambang Amman Mineral (Foto/Dok/Amman Mineral)
Previous

ESG Schizophrenia: Why Amman Mineral’s High-Tech AI Can’t Silence West Sumbawa’s Land Conflicts

Bupati Indramayu, Lucky Hakim (tiga dari kanan) saat Pencanangan Percepatan Musim Tanam I 2025/2026 di Balai Pembenihan Tanaman Pangan, Kecamatan Cikedung, Selasa (2/12/2025
Next

Ambisus 1,7 Juta Ton! Indramayu Targetkan Produksi Padi Terbesar, Luas Tanam Ditambah 21 Ribu Hektare

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • get privacy
    Copyright 2026 GETMEDIA GROUP