Bedah Data BPS November 2025: Mengapa Kesejahteraan Petani di Sawah Tidak Mampu Menahan Inflasi di Kota.
Statistik seringkali berbohong, tapi data BPS NTB November 2025 ini berbicara jujur tentang konflik abadi: Sektor Pertanian (Produsen) vs. Sektor Konsumsi (Konsumen).
Secara resmi, ekonomi NTB sedang berjuang keras. Namun, saat kita melihat angkanya, muncul sebuah ironi: Petani kita makin kuat, tapi ibu kota Mataram malah merasakan harga-harga yang paling mencekik se-Provinsi. Mari kita bedah data ini dengan logika warung kopi.
Kabar Baik: Petani Lebih Sejahtera (The Good News)

Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) adalah kunci kesejahteraan petani. Jika NTP naik, petani lebih untung.
- Fakta Angka: NTP NTB per November 2025 berada di angka 128,37—naik sebesar 1,61% dari bulan sebelumnya.
- Makna untuk Orang Awam: Kenaikan ini terjadi karena harga yang diterima petani untuk hasil panen mereka tumbuh lebih pesat (1.59%) dibandingkan biaya yang mereka keluarkan untuk belanja sehari-hari atau produksi (Ib hanya naik 0.01%). Petani kita sedang menikmati momen “panen harga.”
Kabar Buruk: Inflasi Mataram Paling Mencekik (The Bad News)
Di saat petani tersenyum, konsumen di kota justru harus mengencangkan ikat pinggang.
- Fakta Angka: Inflasi Year-on-Year (Y-o-Y) Provinsi NTB secara total adalah 2,74%. Namun, Kota Mataram mencatat inflasi Y-o-Y tertinggi di NTB, mencapai 2,86%.
- Penyebab Inti: Pemicu inflasi tertinggi adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang naik 3,56%. Ini membuktikan bahwa meskipun barang asal Mataram (hasil panen) dijual dengan harga baik, biaya untuk mendapatkan dan mengonsumsi barang di kota adalah penderitaan terbesar.
Logistik Lari Maraton: Uang Berputar di Pelabuhan
Selain harga, data BPS juga menunjukkan adanya perlombaan logistik yang gila-gilaan di NTB.

- Volume barang bongkar muat (loading/unloading) di pelabuhan NTB tercatat naik sebesar 27,66%.
- Aktivitas perdagangan sedang ngebut. Namun, ironisnya, mobilitas penumpang laut justru turun 15,43%. Ini mengindikasikan bahwa sementara uang dan kargo bergerak cepat, masyarakat umum justru mengurangi mobilitasnya. Kekayaan berputar di sektor perdagangan besar, bukan mobilitas rakyat.
Kenapa Kita Harus Khawatir
Laporan BPS November 2025 ini adalah cermin: Kita punya kekuatan besar di sektor pertanian, tapi kelemahan kronis dalam manajemen rantai pasokan dan pengendalian harga di tingkat konsumen urban. Jika inflasi di ibu kota terus menjadi yang tertinggi, senyum petani di sawah tidak akan pernah bisa menenangkan pusingnya ibu rumah tangga di pasar Mataram.
Eiiits baca ini dulu biar lengkap: Mandalika Megah, Tapi Turis Tak Mau Menginap Lama. Ada Apa dengan Pariwisata NTB?
Tim Redaksi




