JAKARTA, getnews – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data mengkhawatirkan terkait kondisi kesehatan pascabencana di Sumatra. Sumatra Barat (Sumbar) mencatat kasus demam tertinggi, mencapai 376 kasus dalam periode 25–29 November 2025.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyebut tingginya kasus demam menandakan kondisi lingkungan dan tempat pengungsian yang belum pulih dan padat.
“Demam adalah keluhan yang paling cepat meningkat setelah banjir, terutama ketika tempat pengungsian padat dan akses air bersih terbatas,” ujarnya.
Demam Tertinggi di Sumbar, Myalgia dan ISPA Mendominasi
Data menunjukkan demam menjadi keluhan nomor satu di wilayah Sumbar (376 kasus) dan juga Sumatra Utara (277 kasus di Tapanuli Selatan).
Baca juga: Aceh Dihantam Bencana Skala Raksasa: 443 Ribu Jiwa Mengungsi, 173 Orang Meninggal Dunia
Selain demam, keluhan kesehatan umum yang mendominasi posko kesehatan adalah:
- Myalgia (Nyeri Otot): 201 kasus di Sumbar, 151 kasus di Sumut.
- Gatal-gatal dan Dispepsia (Gangguan Pencernaan).
- ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Ancaman Ganda Pasca-Banjir: DBD dan Urine Tikus
Kemenkes memberikan peringatan keras terhadap potensi wabah penyakit susulan. Kondisi pasca-banjir sangat berpotensi menyebabkan lonjakan kasus dua penyakit mematikan:
- Demam Berdarah Dengue (DBD): Genangan air sisa banjir menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk Aedes aegypti.
- Leptospirosis: Banjir menyebabkan kontaminasi air dan lingkungan dengan urine tikus atau hewan lain, yang dapat menularkan bakteri Leptospirosis ke area pengungsian.
Kemenkes menjamin ketersediaan obat dan telah mengirim tenaga kesehatan ke wilayah terdampak, berfokus pada pencegahan penularan dan penekanan risiko komplikasi.
Solusi Kesehatan: PHBS dan 3M Plus Jadi Kunci
Mengingat ancaman yang mengintai, masyarakat diimbau wajib menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sederhana:
- Kebersihan Diri: Rutin mencuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan tubuh, dan selalu memakai alas kaki untuk menghindari luka dan risiko Leptospirosis.
- Keamanan Makanan: Makanan harus dikonsumsi dalam keadaan matang, dan air yang diminum dipastikan aman.
- Kesehatan Lingkungan: Lingkungan pengungsian dijaga tetap kering, bebas genangan, dan sampah dibuang pada tempatnya.
- Pencegahan DBD: Terus menerapkan 3M Plus (Menutup, Menguras, Mendaur ulang, plus pencegahan gigitan nyamuk).
Masyarakat diminta segera periksa diri ke pos kesehatan terdekat bila mengalami gejala seperti demam, diare, ISPA, atau gatal-gatal.
infopublik.id



