Pak Gani itu keren. Nggak usah peduli dia cuma tukang ojek yang mangkal di perempatan Ampenan. Tapi dia survivor. Apalagi hari itu. Mukanya sumringah kayak dapat SMS undian berhadiah dari dinas sosial. BLT itu nama jackpot-nya. Uang tunai yang, sungguh, terasa seperti cinta pertama yang datang tepat waktu.
”Lumayan, Gus! Bisa buat nebus panci bini, sama bayar utang di warung,” katanya sambil menepuk saku kemejanya yang tebal. Uang itu rencananya mau diubah jadi beras, gula, sama lauk-pauk—hal-hal yang bikin hidup nggak se-salty air laut di Pantai Ampenan.
Perjalanan Pak Gani ke pasar itu harusnya adegan film action dengan happy ending. Tapi, sayangnya, ini adalah reality show NTB.
Pak Gani mulai dengan tawa lebar saat menawar ikan. Tapi tawa itu mulai hilang saat ia pindah ke lapak sayuran.
”Mbak, cabai rawit kok harganya kayak harga tiket travel ke Sumbawa?” tanya Pak Gani, mencoba melucu.
Si Mbak Sayur cuma melotot. “Bukan cabai yang mahal, Pak. Uang Bapak yang kurang update,” balasnya tanpa ampun.
Baca kronologis biar paham: Dompet Petani NTB Tersenyum (NTP Naik!), Tapi Konsumen Mataram Merasa Harga Cabai Ikut ‘Pesta’
Uang yang tadi terasa tebal di saku, kini sudah minggir duluan sebelum sampai di pos terakhir: kebutuhan rumah tangga. Pak Gani mendapati bahwa setiap lembar uang yang ia keluarkan terasa mengecil di tangannya, seperti donat mini yang dipotong mini lagi.
“Gila! Nih uang ke mana larinya? Diculik di jalan, ya?” gerutu Pak Gani, menggaruk kepalanya.
(Suara Narrator): Inilah bagian di mana cerita ala warung kopi kita harus didukung data satire dari BPS. Pak Gani tidak tahu. Tapi kita tahu.
Uang Pak Gani itu bukan diculik. Uangnya ditelan diam-diam oleh statistik yang kejam.
Bayangkan saja. Uang itu baru dicetak, tapi nilai belinya sudah dikalahkan oleh Hantu Harga. Pak Gani tidak tahu bahwa ia tinggal di Kota Mataram yang secara statistik mencatat Inflasi Year-on-Year sebesar 2,86 persen—angka tertinggi se-NTB.
Dan cabai? Itu adalah mastermind dari segala kejahatan salty ini. Pemicu utama naiknya biaya belanja Pak Gani adalah Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang secara statistik menyumbang inflasi y-on-y sebesar 3,56 persen.
Kesimpulannya (Si Narrator) gini: Uang BLT itu datangnya cepat, iya. Tapi hantu inflasi lebih cepat lagi dalam menarik nilai belinya. BLT memberikan shock keuangan ke dompet Pak Gani, tapi inflasi memberikan shock permanen ke harga pasar.
Di akhir kisah, Pak Gani cuma bisa pasrah, membeli separuh dari daftar belanjaan aslinya. Ia memutuskan membeli sebungkus rokok di warung sambil menyeruput kopi saset.
”Tolong bilangin sama Bapak Menteri,” kata Pak Gani pada warung kopi. “BLT itu memang cinta yang nyata. Tapi kalau harga cabai terus posesif kayak gini, cinta itu cuma bertahan sampai seminggu.”
Pemerintah sudah keren karena memberikan cash cepat. Sekarang, tantangannya adalah menjaga nilai uang itu tetap stabil—agar kebahagiaan Pak Gani tidak habis hanya di meja kasir.
Urusan BLT selesai. Urusan stabilisasi harga, mari kita lihat.
Tim Redaksi
Foto Cover: Warga memperlihatkan uang Bantuan Langsung Tunai Sementara Kesejahteraan Rakyat (BLTS Kesra) saat penyaluran di Kantor Pos, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (24/11/2025). Penyaluran BLTS Kesra di Kota Kediri tersebut menyasar 7.666 keluarga penerima manfaat masing-masing sebesar Rp900.000 per orang untuk meringankan beban warga. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/indonesia.go.id
BPS !NSIGHT: Edisi Januari 2026
"Sourced from BRS BPS NTB - Strategic Analysis by GET DATA !NSIGHT"




