AMBARA

Mengejar Jejak Dana Siluman: Kisah Pak RT dan Anggaran Linggis yang Hilang Ditelan Jaringan Internet

Ilustrasi (istimewa)

(Cerpen Reality Ala Warung Kopi)

Pak RT Joni itu, umurnya sudah kepala empat, tapi semangatnya buat ngurus warga kayak anak muda lagi ngejar diskon kuota internet. Setiap rapat RT, dia selalu bilang, “Warga harus melek digital! Melek internet!” Padahal di gangnya sendiri, sinyal provider utama cuma muncul kalau Pak RT nangkring di atas genteng sambil kibar-kibar bendera.

​Nah, suatu hari, datanglah kabar gembira dari Kelurahan. Katanya ada anggaran perbaikan jalan gang khusus untuk RT 03! Angkanya lumayan, bisa buat beli lima linggis baja, sepuluh karung semen, dan nasi bungkus untuk gotong royong warga. Pak RT Joni sumringah banget, sudah membayangkan wajah gangnya yang mulus, bebas dari kubangan lumpur yang sering bikin anak-anak sekolah jatuh terpelesuk.

(Suara Narator): Pak RT Joni ini naif. Dia pikir, anggaran itu kayak duit di kantong celana jeansnya: begitu ada, langsung bisa dipakai. Padahal, anggaran pemerintah itu… lebih misterius dari sinyal 5G di desa terpencil.

​👻 Hantu Dana Siluman dan Jaringan Internet

​Dua minggu berlalu. Tiga minggu. Sebulan. Linggis yang dibayangkan Pak RT Joni belum muncul. Semen apalagi. Nasi bungkus? Masih jadi fantasy belaka.

​”Pak RT, itu anggaran linggis kok belum nongol?” tanya Pak Budi, warga paling kepo yang kerjanya mantengin akun gosip Mataram di Facebook.

Kenalan sama Silumannya disini: Dana Siluman Jilid Berapa Lagi? Ketika Korupsi Politik Dihalangi ‘Kekeliruan Logika’

​Pak RT Joni cuma bisa menghela napas. “Sudah saya tanyakan ke Kelurahan, Pak Budi. Katanya, ‘Masih dalam proses verifikasi data digital di server pusat.’ Atau ‘Sudah masuk jaringan internet, Pak RT.’ Pokoknya yang berbau ‘internet’ dan ‘digital’!”

(Suara Narator): Nah, ini dia intinya. Dana Siluman itu bukan hilang di dalam karung, Pak RT. Dia hilang di dalam server. Dia lenyap di antara bits dan bytes yang tak terlihat. Kita semua tahu, setiap kali ada anggaran yang lama prosesnya, apalagi di zaman digital ini, pasti ada “jaringan internet” yang bekerja lebih keras dari biasanya. Entah itu jaringan wi-fi resmi, atau jaringan ngopi-ngopi di kafe sambil “koordinasi.”

​💰 Anggaran Linggis Berubah Jadi ‘Pulsa Misterius’

​Pak RT Joni makin pusing. Warga mulai protes. Bahkan Ibu-ibu PKK yang biasanya cuma sibuk arisan, mulai curiga. “Jangan-jangan uang linggisnya buat upgrade internet kantor Kelurahan, Pak RT?” celetuk Bu Ida, sambil menyindir kecepatan buffering video TikTok-nya yang sering muter-muter.

(Suara Narator): Ini sindiran yang sadis tapi jenaka. Anggaran untuk kebutuhan fisik yang urgent (linggis, semen) seringkali menguap ke pos-pos yang lebih ‘gaib’ di dunia digital. Bisa jadi itu biaya server yang overpriced, software yang tidak berguna, atau mungkin… biaya pulsa misterius untuk komunikasi yang “sangat penting” tapi tidak pernah menghasilkan apa-apa.

​💡 Solusi Jenaka Pak RT: Live Streaming Anggaran!

​Akhirnya, Pak RT Joni menyerah. Dia punya ide gila tapi cerdas.

​”Mulai sekarang,” kata Pak RT Joni di depan warga, “setiap ada anggaran, kita jangan cuma mantengin di Kelurahan. Kita bikin live streaming transparan! Setiap rupiah yang keluar, harus ada notifikasinya di grup WA warga! Anggaran linggis, kapan dibeli? Live di Instagram! Kapan sampai? Live di TikTok!”

​Warga terdiam. Pak Budi tersenyum.

(Suara Narator): Ide Pak RT Joni itu sebenarnya jenius. Di era di mana pemerintah berdalih “sudah digital” dan “masuk jaringan internet,” satu-satunya cara untuk membongkar Dana Siluman adalah dengan memaksa transparansi maksimal menggunakan teknologi yang sama. Biar nggak ada lagi anggaran linggis yang mendadak jadi pulsa misterius di tengah jalan.

​Urusan anggaran digital selesai. Urusan transparansi live streaming, mari kita lihat.

Emha Firmansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *