JAKARTA, getnews – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) secara resmi meluncurkan Program SIKLUS, sebuah inisiatif fesyen sirkular yang bertujuan mengurangi limbah tekstil dari seragam kantor tak terpakai. Kolaborasi dengan startup daur ulang Pable ini adalah langkah nyata mendorong ekonomi kreatif dan lingkungan yang berkelanjutan.
Wamen Ekraf Irene Umar menegaskan bahwa fokus program ini melampaui estetika.
“Fesyen sirkular bukan hanya mengedepankan estetika, tetapi juga functionality… Mengingat, 10 persen dari limbah-limbah yang ada di sekitar kita berasal dari produk fast fashion,” ucap Wamen Ekraf Irene di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Rantai Pasok Lokal: Dari Benang ke Kain Tenun Pasuruan
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Yuke Sri Rahayu, menjelaskan SIKLUS dirancang untuk membangun rantai pasok lokal yang utuh.
Seragam kantor tak terpakai yang diserahkan akan diproses oleh Pable menjadi benang. Benang tersebut kemudian akan dibuat menjadi kain tenun oleh para penenun di Pasuruan, Jawa Timur. Kain tenun baru itu selanjutnya didesain oleh mahasiswa universitas di Surabaya untuk dijadikan seragam baru.
Data Nyata: Hemat CO2 dan Air Hingga Ribuan Liter
Program ini didukung data lingkungan yang kuat. Aryenda Atma, founder Pable, menyebut bahwa setiap kilogram seragam yang didaur ulang memiliki dampak positif luar biasa:
- Emisi Karbon: Berpotensi mengurangi karbon sebesar 315 kilogram CO2 (yang terbentuk dari pembuatan kain baru).
- Penyelamatan Alam: Menyelamatkan 14 pohon dan hanya membutuhkan 40 mililiter air (jauh lebih kecil dari 2.700 liter air untuk memproses katun baru).
Visi Indonesia ‘Circular Hub’ Global
Melihat 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan secara global—dengan hanya 1% yang kembali menjadi material—Aryenda Atma optimistis Indonesia memiliki peluang besar.
“Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia punya kesempatan untuk menjadi circular hub tidak hanya di Asia, tetapi global,” tuturnya.
Wamen Ekraf Irene Umar berharap SIKLUS menjadi opportunity bagi pengembangan alternative fashion, mendorong konsumen untuk lebih bijak.
“Let’s choose wisely, let’s live wisely as a valuable human being,” pungkasnya, menekankan dampak ekonomi dan lingkungan dari setiap keputusan belanja.
kemenEkraf




