SOSOK Sumatra Barat

“Kalau Ikhlas, Tidak Terasa Capeknya” – Welli Nofiza, Penjaga Semangat Ratusan Korban Banjir Padang

Welli Nofiza, PIC Pos Pengungsian SDN 02 Cipak Tangah, Kecamatan Pau, Kota Padang (foto: Noel KPM/Kemkomdigi)

PADANG, getnews – Di tengah hiruk pikuk Posko Pengungsian SDN 02 Cupak Tangah, Kota Padang, sosok Welli Nofiza (38) berdiri sebagai jangkar. Perempuan dengan latar belakang apoteker dan anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kota Padang ini bukan sekadar petugas, melainkan Person In Charge (PIC) yang menjadi tumpuan 118 Kepala Keluarga (KK) korban banjir bandang.

​Mengelola posko selama 24 jam penuh bersama 44 petugas kecamatan, Welli mendedikasikan waktu dari fajar hingga malam.

“Kalau ikhlas, tidak terasa capeknya,” tutur Welli sambil tersenyum, pada Sabtu (6/12/2025).

Mengawal Pengungsi: Pindah Posko dan Kunjungan Tokoh

​Welli mengenang masa-masa awal bencana (28 November) ketika posko harus berpindah-pindah tiga kali karena air yang terus naik dan abrasi. Kini, posko yang ia kelola menampung warga dari tiga kelurahan: Kapalo Koto, Batang Arau, dan Cupak Tangah.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Fokus Pemulihan Infrastruktur dan Hunian Terdampak Bencana Sumatera

​Situasi posko yang padat ini menarik perhatian banyak tokoh nasional yang datang membawa bantuan logistik berton-ton.

​“Sejak awal sudah banyak tokoh yang datang. Ada Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Menteri PPPA Arifatul Choiriah, Anggota DPD RI Alfiansyah Bustami atau Komeng, sampai Gubernur Jawa Barat Dedy Mulyadi, dan Jasmin (brand ambassador) dari Wardah,” terang Welli, mencatat logistik vital yang disumbangkan.

Dilema Relokasi: Antara Keselamatan dan Kecemasan Baru

​Masa darurat segera berakhir pada 7 Desember, dan Pemko Padang telah mempersiapkan babak baru: relokasi ke Rumah Nelayan Koto Tangah. Relokasi ini diprioritaskan untuk 20 hingga 30 KK yang rumahnya rusak berat atau habis total.

​Namun, relokasi membawa kecemasan baru. Welli memahami kekhawatiran warga yang selama ini terbiasa hidup di dataran atas, kini harus dipindahkan ke dekat pantai—wilayah yang juga berpotensi rawan bencana.

​“Mereka sudah terbiasa hidup di dataran atas. Tapi di situasi seperti ini, keselamatan dan tempat tinggal layak tetap jadi prioritas,” ujarnya, menjelaskan dilema yang dihadapi.

​Dengan keahliannya, Welli turut membantu tim kesehatan memantau kasus demam, flu, dan alergi akibat cuaca ekstrem dan kondisi tidur seadanya. Selain itu, trauma healing untuk anak-anak juga terus diberikan oleh berbagai pihak.

​Bagi Welli, yang tiba pukul 08.00 pagi dan pulang setelah pukul 21.00 malam, harapannya sederhana: pemulihan yang cepat dan aman. Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan warga bukan hanya tempat tinggal, tetapi rasa aman setelah trauma massal.

infopublik.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *